DetikNews
Kamis 28 Maret 2019, 19:41 WIB

Arsitektur Pusat Informasi Geopark di Kaki Gunung Ijen Disayembarakan, Minat?

Ardian Fanani - detikNews
Arsitektur Pusat Informasi Geopark di Kaki Gunung Ijen Disayembarakan, Minat? kaki Gunung Ijen (Foto: Istimewa)
Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi menggelar sayembara desain arsitektur untuk desain bangunan Pusat Informasi Pariwisata Geopark Nasional Banyuwangi (GNB) yang lokasinya berada di kaki Gunung Ijen. Hadiah yang disiapkan Rp 115 juta.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan arsitektur menjadi bagian integral pembangunan di Banyuwangi. Ruang-ruang publik dibangun dengan menggandeng arsitek, karena Banyuwangi tak ingin bangunan yang berdiri secara fungsional saja, tapi juga harus indah, ikonik, dan tak lekang oleh waktu.

"Untuk itu, pusat informasi wisata geopark yang akan dibangun ini dilombakan. Kami ingin lebih banyak arsitek yang ikut mewarnai ruang publik di Banyuwangi," kata Anas kepada detikcom via WhatsApp, Kamis (28/3/2019).

Selama ini, Banyuwangi telah melibatkan arsitek tersohor untuk mengembangkan berbagai pengembangan, mulai bandara, taman, destinasi wisata, hotel, industri, lembaga pendidikan, hingga Puskesmas. Mereka yang terlibat antara lain Andra Matin, Yori Antar, Adi Purnomo, Budi Pradono, hingga Denny Gondo.


"Bangunan yang ikonik bisa menjadi pendorong ekonomi daerah dengan banyaknya orang yang datang berkunjung," imbuh Anas.

Pusat informasi pariwisata GNB ini nantinya akan difungsikan sebagai pusat informasi tentang keragaman geologi, keragaman hayati, dan budaya di sekitar situs-situs GNB. Banyuwangi sendiri telah ditetapkan sebagai kawasan Geopark Nasional, dengan tiga situs yang melingkupinya, yakni blue fire Gunung Ijen, Pulau Merah, dan Taman Nasional Alas Purwo. Dan saat ini dalam proses diajukan untuk masuk jaringan geopark dunia (Global Geopark Network UNESCO).

Lokasi pusat informasi wisata itu berada di tengah areal persawahan Desa Kenjo Kecamatan Glagah seluas 8.200 meter persegi. Kenjo merupakan salah satu desa di Banyuwangi yang berada tak jauh dari kaki Gunung Ijen, dan dikenal sebagai penghasil beras premium. Warga desa tersebut dikenal sebagai suku Osing, masyarakat lokal Banyuwangi.

Kepala Dinas PU Cipta Karya dan Penataan Ruang Banyuwangi, Mujiono, menambahkan, kriteria desain yang disayembarakan adalah bangunan yang dihasilkan harus mencerminkan integrasi kebutuhan masyarakat dengan kekhasan budaya daerah. Selain menonojolkan nilai kelokalan, juga harus berorientasi masa depan, serta menerapkan konsep arsitektur hijau.


Sayembara ini dibuka untuk kalangan arsitek, yang memiliki keanggotaan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Pendaftaran dibuka 14 Maret hingga 31 Mei 2019.

"Para peserta bisa mendaftar di website www.iai-arema.com. Tanggal 22 Juni adalah batas pengumpulan karya, 1 - 13 Juli penjurian. Lalu 31 Juli pengumuman sekaligus malam apresiasinya dan penyerahan hadiah," jelas Mujiono.

Dalam sayembara ini, Pemkab Banyuwangi menggandeng dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur dan IAI wilayah III Malang. Dewan juri sayembara ini Eko Prawoto, Tan Tik Lam, dan Hari Sunarko dari kalangan arsitek. Juga budayawan lokal Samsudin Adlawi.



Tonton juga video Bule Jerman yang Banting Penjaga Bromo:

[Gambas:Video 20detik]


(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed