DetikNews
Selasa 26 Maret 2019, 10:23 WIB

Per Hari, 200 Kontainer Komoditas Pertanian di Jatim Diekspor

Hilda Meilisa - detikNews
Per Hari, 200 Kontainer Komoditas Pertanian di Jatim Diekspor Kepala Balai Karantina Surabaya Musyaffak Fauzi/Foto: Hilda Meilisa Rinanda
Surabaya - Produk-produk Indonesia banyak diminati masyarakat di seluruh penjuru dunia. Hal ini terbukti dari data banyaknya ekspor komoditas pertanian dan maupun hewan.

Kepala Balai Karantina Surabaya Musyaffak Fauzi menyebut setiap harinya rata-rata ada 200 kontainer yang diekspor. Tiap kontainer tersebut berisi macam-macam produk. Mulai hasil pertanian hingga produk hewan.

Datanya, rata-rata ekspektasi komoditas pertanian melalui Karantina Surabaya per hari mencapai 197 Kontainer untuk komoditas tumbuhan dan 4 kontainer komoditas produk hewan.

"Kita sekitar hampir 200 kontainer setiap hari. Dokumennya sekitar 40 sampai 50. Jadi ada sekitar 50an perusahaan yang ekspor," kata Musyaffak kepada detikcom di Surabaya, Selasa (26/3/2019).

"Terus tujuan ada 82 negara tujuan ekspornya. Kalau perusahaan ekspornya sekitar 800an, ini yang dilayani oleh karantina Surabaya. Nggak pernah berhenti kita selalu ekspor," tambah Musyaffak.

Dari data Balai Karantina Pertanian Surabaya, pada Maret 2019 ini pihaknya telah menerbitkan 2083 sertifikat kesehatan karantina. Sementara keseluruhan ekspor senilai Rp 2,141 Triliun yang terdiri dari Rp 1,7 miliar komoditas tumbuhan dan Rp 441,562 Miliar komoditas dan produk hewan.

Musyaffak menambahkan rata-rata dalam sebulan nilai ekspornya bisa mencapai Rp 2 Triliun hingga Rp 3 Triliun. Hal ini dirata-rata dari nilai setiap kontainer yang bisa mencapai Rp 500 juta dan dikali dengan 200 kontainer setiap hari.

"Kalau nilai per kontainer Rp 500 juta, berarti setiap hari Rp 100 miliar. Ada yang di atasnya, ada yang di bawahnya. Kalau sebulan Rp 3 triliun. Ada yang nilainya diatas itu," papar Musyaffak.

Sementara itu, Musyaffak juga menyebut tren ekspor kian naik. Meski sempat menurut pada 2018 lantaran perang dagang Amerika dan China, kini ekspor mulai menggeliat lagi.

"Kalau 2018 ada penurunan sedikit, ada pengaruh dari perang dagang. Ini 2019 itu dibanding tahun kemarin bulan yang sama naik datanya. Cenderung naik," imbuhnya.

Saat ditanya terkait komoditas apa yang sangat banyak diekspor, Musyaffak menambahkan minyak kelapa sawit (CPO) hingga kayu masih menjadi primadona. Selain itu, kopi dan tembakau dari Indonesia pun juga favorit.

"Kemarin ada urutannya, kayak kayu, tembakau, kopi itu masih menjadi favorit," pungkasnya.
(hil/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed