detikNews
Senin 25 Maret 2019, 17:02 WIB

Kampanye Akbar, Jokowi Minta Jaga Silaturahmi Meski Beda Pilihan

Ardian Fanani - detikNews
Kampanye Akbar, Jokowi Minta Jaga Silaturahmi Meski Beda Pilihan Gaya Jokowi saat berkampanye di Banyuwangi (Foto: Ardian Fanani)
Banyuwangi - Dalam kampanye akbar di RTH Taman Blambangan Banyuwangi, Calon Presiden nomer urut 01 Joko Widodo menyapa warga Kabupaten paling ujung Timur Pulau Jawa ini dengan bahasa Using (bahasa Banyuwangi).

"Kelendi kabare? Sae nggih, sae?" ujar Jokowi di hadapan ribuan para simpatisan dan relawan Capres nomer urut 01, Senin (25/3/2019).

"Kalau pindah ke Sumut, beda lagi, Horas. Pindah ke Jawa Tengah, kulonuwun. Inilah negara kita yang berbeda-beda," tambahnya.

Menurut Jokowi, Indonesia merupakan negara besar dengan penduduk 297 juta jiwa. Banyak perbedaan-perbedaan yang ada. Mulai dari berbeda suku, agama hingga budaya.


"Tetapi Alhamdullillah, berkat Pancasila, sampai saat ini dan insya Allah sampai akhir zaman, kita tetap bersatu dalam bingkai NKRI," tambahnya.

Menurut Jokowi, Banyuwangi adalah salah satu contoh miniatur Indonesia. Ada banyak suku yang hidup di sini, tetapi tetap rukun dan tetap merasa sebagai saudara sebangsa dan setanah air.

"Itulah contoh perilaku yang harus terus kita pelihara. Kita harus terus merawat kerukunan. Meskipun ada perbedaan pilihan, kita harus terus menjaga silaturahmi kita," tambahnya.

Jokowi juga meminta kepada masyarakat untuk terus menjaga silaturahmi meski berbeda pilihan. Menurutnya yang terpenting bukanlah memperuncing perbedaan dengan menyebar hoax yang semakin merajalela saat ini.

"Saya minta kita semua betul-betul bekerja keras dalam waktu 23 hari ini. Jangan sampai ada perubahan-perubahan yang disebabkan karena hoax, kabar fitnah, atau kabar bohong. Jangan percaya itu. Saya beri contoh, kalau Jokowi menang, pendidikan agama akan dihapus, itu bohong. Itu adalah kebohongan. Ini kabar fitnah yang mengakibatkan keresahan. Harus dilawan dan diluruskan," tambahnya.


Ada lagi kabar, nanti kalau Jokowi menang, akan ada larangan azan. Bohong, fitnah. bohong, fitnah. Bohong, fitnah. Itu fitnah. Negara kita Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Siapa pun presiden tidak akan berani melakukan itu," tambahnya.

Menurut Jokowi, hal tersebut adalah cara-cara yang dipakai untuk mendelegitimasi dirinya. Harus dilawan dengan dan diluruskan. Pihaknya meminta masyarakat harus berani menyampaikan kepada masyarakat bahwa itu adalah berita bohong.

"Berita bohong lain, kalau Jokowi dan KH Ma'ruf Amin menang, akan dilegalkan kawin sejenis. Itu juga kabar bohong yang disemburkan ke mana-mana. Sekali lagi, itu kebohongan. Itu fitnah.
Yang terakhir mulai muncul, kalau Jokowi menang, zina akan dilegalkan. Tolong, kalau itu ada di Banyuwangi, tolong diluruskan. Harus dilawan hal-hal seperti ini," pungkasnya.

Dalam kampanye akbar tersebut hadir pula Ketua TKN Erick Thohir, Dewan Pengarah TKN Pramono Anung, Wakil Ketua TKN Abdul Kadir Karding, putri mantan Presiden Abduraahman Wahid Yenny Wahid, Tokoh Perempuan Jatim Khofifah Indar Parawansa, serta tokoh Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.



Saksikan juga video 'TGB soal Pilpres: Ini Bukan Perang Armagedon!':

[Gambas:Video 20detik]


(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed