DetikNews
Senin 25 Maret 2019, 09:15 WIB

Sucipto, Sosok Pria yang Dikenal Pembela Pekerja Migran Indonesia

Erliana Riady - detikNews
Sucipto, Sosok Pria yang Dikenal Pembela Pekerja Migran Indonesia Sucipto, pembela pekerja migran Indonesia/Foto: Istimewa
Blitar - Penampilannya sederhana, seperti umumnya orang desa. Namun kiprahnya membela para pekerja migran Indonesia diakui negara. Dipastikan, pria ini akan dihubungi pertama kali oleh pekerja migran yang tersandung masalah di luar negeri. Bukan instansi pemerintah yang ada.

Dialah Sucipto. Pria berusia 51 tahun ini merupakan warga Desa Kebonduren, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. Kiprahnya memperjuangkan hak para pekerja migran dimulai sejak tahun 2010 lalu.

"Saya dulu juga TKI. Saya jadi pelaut 10 tahun di Singapura. Saya tahu persis, bagaimana perlakuan yang diterima pekerja migran di Thailand, Hong Kong dan sekitarnya. Miris hati saya. Mereka diperalat korporasi dan pemerintah masih melekat dengan perusahaan," kata Sucipto saat berbincang dengan detikcom, Senin (25/3/2019).

Sucipto pulang kembali ke Indonesia tahun 2007. Dengan modal yang dikumpulkan, dia membeli lahan sawah dan beralih profesi menjadi petani.

Sucipto mengaku sangat prihatin dengan kondisi yang dialami para pekerja migran. Apalagi jika mereka berlatar belakang pendidikan rendah dan berangkat keluar negeri melalui jalur ilegal. Bagi Sucipto, menggalang kekuatan untuk membela sesama pekerja migran harus segera dilakukan.


"Kita harus bersikap. Kita harus berani bangkit membela hak-hak kita sendiri. Kalau bukan kita sendiri, pada siapa kita bergantung," tandasnya.

Bapak dari tiga anak ini berkisah awal mula membela pekerja migran, dari kasus di Arab Saudi. Saat itu pekerja migran sakit lalu meninggal meninggal dunia. Namun karena berangkat secara ilegal, pemerintah terhalang regulasi untuk mengurusinya.

"Bisa tidak di sini G to G. Goverment to goverment. Bukan perusahaan to perusahaan. Dari masalah ini, kami bentuk jaringan di tiap negara tujuan, kami swadaya mengumpulkan dana untuk memulangkan jenazah kawan di Saudi Arabia," ungkapnya.

Dengan membentuk koordinator di tiap negara tujuan PMI bekerja, memudahkan Sucipto menyampaikan permasalahan dan menemukan solusinya. Jika masalah yang dihadapi harus berhadapan dengan institusi pemerintah, Sucipto baru menghadap instansi terkait untuk mendapatkan jawabannya.

"Saya ini sebenarnya semacam perantara saja. Ketika bermasalah, mereka menghubungi saya bisa 24 jam. Sedangkan kalau melalui instansi pemerintah, sering dibatasi jam dan hari kerja. Belum lagi kalau mereka ilegal, malah tidak tahu apa-apa. Tahunya saya bisa ngatasi deh masalahnya. Dan saya tidak pernah menarik seperpun bayaran untuk itu semua," ujarnya sambil tertawa.


Rasa iba dan nyaman bisa memberi bantuan, makin menghantarkan pria yang sekarang bertani ini ke permasalahan lain yang dihadapi para pekerja migran. Baginya permasalahan pekerja migran di Indonesia seperti mencuci piring saja.

"Kasusnya sama. Hanya orangnya yang ganti. Harapan saya, ya jangan begitu saja. Kasus modelnya selalu sama. Saya seperti cuci piring saja," ucapnya.

Kasus yang selalu terulang itu adalah penipuan, tidak dibayar, berangkat secara ilegal, sakit tidak bisa pulang dan hilang kontak. Dia pun mengharap, pemerintah gerah dengan permasalahan ini dan membuat kebijakan yang berpihak kepada warga negaranya sendiri.

"Buatlah pemerintah jaringan sampai ke akar rumput. Jangan hanya di permukaan saja. Karena perekrutan pekerja migran biasanya mandor. Dan mandor membawa pekerja migran ilegal. Seandainya Indonesia mau menutup jalan tikus, maka kita bisa membuka jalan gajah. Karena masalah tenaga kerja, Indonesia maupun negara tujuan, sama-sama saling membutuhkan," pungkasnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed