DetikNews
Sabtu 23 Maret 2019, 16:16 WIB

KAHMI: Ancaman Indonesia Terbelah di Tengah Euforia Demokrasi

Muhammad Aminudin - detikNews
KAHMI: Ancaman Indonesia Terbelah di Tengah Euforia Demokrasi Simposium
Malang - Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) melihat gejala keterbelahan bangsa muncul di tengah proses demokrasi. Indonesia dikatakan masih menghadapi masalah mendasar di bidang sosial dan politik. KAHMI berharap adanya solusi untuk menjawab tantangan itu.

Koordinator Organizing Committee Simposium Nasional KAHMI Lukman Hakim mengatakan berdasar kekhawatiran itulah doktor dan guru besar KAHMI berkumpul membahas problematika yang ada. Karena persoalan dan tantangan yang dihadapi tidak sepenuhnya harus menjadi tanggung jawab negara/pemerintah, melainkan masyarakat memiliki peluang dan panggilan turut menyelesaikan.


"Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan mendasar di bidang politik dan sosial. Bidang sosial problem-problem yang dihadapi seperti kemiskinan, keterbelakangan, ketidak merataan pendidikan, pengangguran, layanan kesehatan yang buruk, sampai konflik horizontal. Sementara bidang politik problem mendasar adalah demokrasi yang sedang mencari bentuk, tingginya tingkat korupsi politik, serta beragam persoalan lain," terang Lukman di sela simposium "Ketahanan Sosial dan Demokrasi menuju 100 tahun Indonesia' digelar KAHMI di Universitas Brawijaya Jalan Vetaran, Sabtu (23/3/2019).

Menurut Lukman, dalam konteks pemilu saat ini, bangsa Indonesia seolah terbelah antara kutub 01 dengan kutub 02. Keterbelahan itu tidak saja antar kelompok yang secara sosial dan politik berbeda, melainkan juga terjadi di dalam kelompok yang sama.


"Misalnya, keterbelahan di kalangan internal NU, Muhammadiyah, Partai Golkar, Partai Demokrat, PDI-P, PAN, Partai Nasdem, dan lain-lain. Pada lembaga-lembaga negara dan birokrasi juga terjadi keterbelahan-keterbelahan tersebut. Hal itu bisa menjadi sesuatu yang biasa sebagai dinamika dalam demokrasi. Namun, ketika ia menjadi pertentangan politik yang tajam dan kurang terkendali ditambahi fanatisme (agama, etnis, partai, dan lain-lain) dapat menimbulkan kegaduhan bahkan konflik. Hal itu yang turut dibahas fenomena tersebut dalam simposium KAHMI," bebernya.

Sejumlah pakar hadir dalam simposium nasional ini, untuk menyampaikan pandangannya demi penyelamatan Indonesia dari perpecahan dan kesenjangan sosial. Diantaranya, pengamat politik LIPI Siti Zuhro, ilmuwan politik dan dosen FISP Universitas Brawijaya Wawan Sobari serta pakar media Erman Anom. Simposium juga menyajikan kelas-kelas panel untuk spesifik empat subtema, Demokrasi dan Identitas Nasional, Civil Society dan Ketahanan Sosial, Media dan Kebebasan Sipil, Kewirausahaan Sosial Politik dan Reformasi birokrasi. KAHMI memiliki 473 guru besar dan 1.042 doktor yang tersebar dalam semua bidang ilmu.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed