DetikNews
Jumat 22 Maret 2019, 18:10 WIB

Penjelasan Walkot Mojokerto Soal Siswi SD Meninggal Terlambat Ditangani

Enggran Eko Budianto - detikNews
Penjelasan Walkot Mojokerto Soal Siswi SD Meninggal Terlambat Ditangani Siswi SD meninggal karena DB/File: detikcom
Mojokerto - Siswi kelas V SD di Kota Mojokerto menderita Demam Berdarah Dengue (DBD) meninggal dunia. Diduga korban terlambat ditangani petugas medis Puskesmas Blooto. Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menilai kasus ini terjadi akibat kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.

Wali Kota yang akrab disapa Ning Ita ini mengatakan, maraknya kasus DBD selama musim penghujan tidak hanya terjadi di Kota Mojokerto, tapi di seluruh wilayah Indonesia. Dia mengklaim telah berusaha maksimal untuk menekan jumlah penderita DBD di wilayahnya. Salah satunya melalui program kali bersih (Prokasih) dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang kini melibatkan lebih dari 1.600 kader.

"Tapi kembali lagi, namanya warga banyak, ada yang mau diajak, kadang-kadang lingkungan sendiri tidak mau menjaga," kata Ning Ita usai pembukaan Mojotirto Festival di Jembatan Rejoto, Kota Mojokerto, Jumat (22/3/2019).

Aini Aliah Safira (11), warga Kedungkwali 3 Utara, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto meninggal akibat DBD di RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo, Minggu (17/3). Ayah korban menyebut anaknya terlambat mendapatkan penanganan medis dari petugas Puskesmas Blooto.

Siswi kelas V SD itu harus dibawa ke Puskesmas Blooto, Kota Mojokerto sebanyak tiga kali karena mengalami demam. Baru kedatangannya yang ke tiga, Sabtu (16/3), petugas medis melakukan tes darah. Hasilnya, Aini positif terkena DBD sehingga dirawat inap di puskesmas tersebut.


Nahas, malam harinya kondisi korban kian parah karena keluar bintik-bintik merah pada kulitnya. Aini lantas dirujuk ke RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto, Minggu (17/3) pagi. Saat itu korban sudah mengalami sesak nafas.

Kondisi Aini sudah memburuk saat dirujuk ke rumah sakit. Hasil tes darah di rumah sakit menunjukkan trombosit korban hanya 17 ribu, sedangkan HB korban 18,3. Di hari yang sama Pukul 15.00 WIB, korban mengalmi muntah darah. Bungsu dari tiga bersaudara pasangan Sulaiman (52) dan Suharsih (44) itu meninggal pukul 17.30 WIB.

Terkait layanan Puskesmas Blooto yang dinilai buruk, Ning Ita menampiknya. Dia berdalih puskesmas maupun rumah sakit di wilayahnya kebanjiran pasien dari kota maupun daerah di sekitarnya.

"Kadang-kadang warga kita sampai berpindah-pindah ke rumah sakit (karena penuh), tapi tetap selalu kami upayakan. Kami dari Dinkes, Dispenduk dan BPJS sudah duduk bersama agar bisa membantu warga kita supaya dirawat walau sampai mencarikan rumah sakit di luar kota," terangnya.

Adanya warga yang meninggal akibat DBD belum membuat Pemkot Mojokerto menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB). Padahal, selama beberapa tahun terakhir belum ada pasien DBD yang meninggal dunia.

"Tidak (KLB) karena memang kita sendiri sudah gerak aktif. Program PSN dan Prokasih kita masih jalan," tegas Ning Ita.

Selain pelayanan di puskesmas, sulitnya mendapatkan foging (pengasapan) juga dikeluhkan warga Kota Onde-onde. Rupanya, Ning Ita menilai foging tidak efektif untuk mencegah merebaknya penderita DBD.

"Perlu sosialisasi masiv ke masyarakat, bahwa foging hanya membunuh nyamuknya, bukan jentiknya. Padahal jentik justru sangat kita waspadai. Saya kira Prokasih dan PSN bagi kami lebih efektif. Foging juga berdampak ke pernafasan kalau pembersihan lingkungan pasca foging tidak maksimal," tandasnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed