DetikNews
Kamis 21 Maret 2019, 21:35 WIB

Ada Tiga Sketsa Bangunan Situs Tol Pandaan-Malang, Seperti Apa?

Muhammad Aminudin - detikNews
Ada Tiga Sketsa Bangunan Situs Tol Pandaan-Malang, Seperti Apa? Salah satu gambaran bangunan untuk situs Sekaran (Foto: Muhammad Aminudin)
Malang - Situs Sekaran diyakini sebagai kompleks bangunan yang menghadap Mahameru (Gunung Semeru). Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur memiliki sketsa gambaran untuk merekontruksi sementara area situs. Seperti apa?

Kepala tim arkeolog BPCB Jawa Timur Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan ada beberapa sketsa bangunan yang memiliki kemiripan dengan temuan-temuan di Situs Sekaran.

"Ada tiga dugaan yang mengarah untuk merekonstruksi area cagar budaya ini. Apakah lebih kepada sebuah kedaton, puri, atau hunian private yang dilengkapi tempat peribadatan," ujar Wicaksono kepada wartawan di lokasi, Kamis (21/3/2019).

Wicaksono membeberkan tiga sketsa yang dimaksud. Pertama, merujuk kepada struktur bangunan umat Hindu di Pulau Bali. Di sana, tata ruang hunian memakai konsep sanga mandala yang berdiri di dalamnya tempat peribadatan. Ditambah bangunan-bangunan lain seperti bale, dan juga lumbung.


Prakiraan kedua, situs Sekaran adalah sebuah kedaton (keraton) yang dihuni seorang raja. Dalam konsep bangunan kedaton, area kompleks lebih luas dibandingkan hunian private (pribadi).

Tata ruang bangunan, berdiri semacam cluster-cluster yang didirikan sesuai peruntukannya masa itu. Selain ada gapura utama di bagian depan, gapura juga berdiri untuk menghubungkan satu ruangan ke ruangan lain.

"Nah, gapura yang kita temukan disini (Sekaran), apakah gapura rumah pribadi atau kedaton. Tentunya butuh kajian lebih mendalam dan penelitian yang nantinya melibatkan Balai Arkeologi Yogyakarta," terang Wicaksono.

Sketsa gambaran terakhir atau yang ketiga, kata Wicaksono, situs Sekaran didirikan dengan konsep tata ruang puri yang dihuni bangsawan kala itu.

Mirip tata ruang bangunan sebelumnya, puri pada bagian depan berdiri sebuah gapura atau paduraksa, dengan lebar pintu hanya 80 meter menggunakan pintu kupu tarung berbahan kayu.

Seperti puri umat Hindu yang ada di Pulau Bali, lanjut Wicaksono, di dalamnya berdiri bale dengan batur (lantai) berupa tatanan bata dengan ketinggian tertentu. Anak tangga dibuat sebagai akses menaikinya, sementara bagian atap menggunakan ijuk yang disokong oleh tiang terbuat dari kayu.

"Gambaran puri, seperti yang di Bali seperti itu. Batur atau altar yang kita temukan di belakang gapura, bisa jadi tempat peribadatan dalam puri tersebut, atau bale tempat para tamu. Lantai kompleks hanya terbuat dari tanah yang dipadatkan," sebut Wicaksono.

Ditanya gambaran tata ruang mana cenderung memiliki kecocokan dengan situs Sekaran? Wicaksono tak ingin berspekulasi terlalu jauh. Tiga gambaran tata ruang tersebut nantinya akan menjadi dugaan awal untuk dibuktikan selama penelitian.


"Untuk menyimpulkan, terlalu dini. Karena melalui penelitian mendalam yang akan dilakukan oleh Balai Arkeolog Yogyakarta. Tentunya kami sangat berharap tata ruang akan cenderung mengarah kepada sebuah kedaton. Jika melihat dari sebaran fragmen bata di area situs yang ditemukan," ungkap Wicaksono.

Ditambahkan Wicaksono, situs Sekaran diduga kuat berdiri pada masa pra-Majapahit. Bisa saja pada era Singosari ataupun Kadiri (Kediri). Didukung dari penemuan uang kepeng di lokasi situs, ada tiga uang gobog ditemukan pada masa tiga dinasti Cina. Yakni Han, Song dan Ming.

Dinasti Han berdiri sebelum dinasti Song di abad 10. Sementara Dinasti Ming lebih muda pada era Majapahit. "Uang kepeng juga ada ditemukan masa dinasti Han. Ini bisa menunjukkan jika situs Sekaran berdiri atau ada sebelum Singasari bahkan Kediri. Namun semua akan diteliti lebih dalam," tutur Wicaksono.

Alasan keberadaan uang kepeng masa itu, kata Wicaksono, sebagai transaksi perdagangan masyarakat zaman itu. Meskipun kerajaan di Jawa sudah memiliki mata uang sendiri yang disebut Ma. "Tapi mata uang Ma harganya terlalu mahal, terbuat dari emas dan perak. Makanya uang kepeng banyak beredar masa itu , karena bisa dimiliki siapapun untuk alat transaksi perdagangan," papar Wicaksono.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed