DetikNews
Rabu 20 Maret 2019, 15:11 WIB

Terlambat Ditangani, Siswi SD Mojokerto Meninggal karena Demam Berdarah

Enggran Eko Budianto - detikNews
Terlambat Ditangani, Siswi SD Mojokerto Meninggal karena Demam Berdarah Siswi SD meninggal karena DB/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Siswi kelas V SD di Kota Mojokerto meninggal dunia karena Demam Berdarah Dengue (DBD). Orang tua korban menyebut, bocah berusia 11 tahun itu terlambat ditangani petugas medis di puskesmas.

Bocah malang itu adalah Aini Aliah Safira (11), warga Kedungkwali 3 Utara, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. Aini merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Sulaiman (52) dan Suharsih (44).

Sang ayah mengatakan, gejala DBD yang diderita Aini awalnya berupa demam tinggi. Pihaknya pun membawa putrinya itu ke Puskesmas Blooto, Kota Mojokerto pada pekan pertama Maret 2019.

Oleh dokter di puskesmas, Aini hanya diberi obat. Namun, obat dari puskesmas tak mampu menurunkan demam yang dialami korban.

"Sampai obatnya habis, demamnya masih tinggi. Saat itu sudah 10 hari demamnya," kata Sulaiman kepada detikcom di rumahnya, Rabu (20/3/2019).


Khawatir dengan kondisi kesehatan putrinya, Sulaiman pun membawa Aini kembali ke Puskesmas Blooto. Lagi-lagi dokter hanya memberinya obat. Permintaan Sulaiman agar putrinya dicek kemungkinan adanya penyakit lain, tak ditanggapi oleh dokter.

"Saya minta supaya dicek lagi sakitnya apa, tapi petugas puskesmas bilang tidak apa-apa," ungkapnya.

Setelah meminum obat dari puskesmas, lanjut Sulaiman, demam yang dialami Aini memang sempat turun. Sehingga 11-14 Maret 2019, siswi kelas V SD itu bisa masuk sekolah untuk mengikuti ujian. Namun sehari setelahnya, Jumat (15/3), Aini kembali mengalami demam tinggi.

"Jumat sore sekitar jam 4 (pukul 16.00 WIB) saya bawa kembali ke Puskesmas Blooto untuk tes darah, tapi puskesmas sudah tutup. Baru besoknya dites darah di Puskesmas Blooto. Hasilnya positif DBD, trombositnya 141 ribu. Baru saat itu disuruh rawat inap," terangnya.

Pada Sabtu (16/3) malam, kata Sulaiman, demam yang dialami Aini semakin parah. Keluar bintik-bintik merah pada kulit Aini. Esok harinya, Minggu (17/3) pagi, aini mengalami sesak nafas. Korban pun dirujuk ke RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto.


"Di RSUD, dari IGD langsung masuk ICU. Sorenya sekitar jam 5 (pukul 17.00 WIB), Aini mengalami kejang dan pendaraan dari mulut dan hidung, sampai muntah darah. Sekitar setengah jam kemudian meninggal," jelasnya.

Sulaiman harus mengikhlaskan kepergian Aini untuk selamanya. Hanya saja dia menyesalkan pelayanan Puskesmas Blooto yang terkesan terlambat mendiagnosa penyakit yang diderita putrinya. Dia berharap kejadian serupa tak menimpa korban DBD lainnya di Kota Onde-onde.

"Harapan saya supaya pelayanan lebih serius," tegasnya.

Direktur RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto dr Sugeng Mulyadi menjelaskan, kondisi Aini sudah memburuk saat dirujuk ke rumah sakit. Hasil tes darah di rumah sakit menunjukkan trombosit korban hanya 17 ribu, sedangkan HB korban 18,3.

"Pukul 15.00 WIB, pasien gelisah dan sesak nafas disertai muntah darah. Kondisi pasien terus menurun. Pukul 17.30 WIB, pasien dinyatakan meninggal dunia," tandasnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed