DetikNews
Sabtu 16 Maret 2019, 08:18 WIB

Round-up

Doktrin Kiamat 'Sihir' Warga Empat Kota di Jawa Timur

Suki Nurhalim - detikNews
Doktrin Kiamat Sihir Warga Empat Kota di Jawa Timur Foto M Romli, pengasuh Ponpes di Malang/Foto: Yakub Mulyono
FOKUS BERITA: Warga Terdoktrin Kiamat
Surabaya - Fatwa kiamat sudah dekat diduga tidak hanya menyihir puluhan warga di Ponorogo. Doktrin ini juga diyakini oleh banyak warga di Jember, Jombang dan Mojokerto.

Fatwa kiamat pertama kali mencuat di Ponorogo. Yakni setelah diketahui ada 52 warga Dusun Dukuh Krajan, Desa Watubonang, Kecamatan Badegan yang pindah ke Ponpes Miftahul Falahil Mubtadin di Kabupaten Malang.

Mereka diduga tersihir fatwa kiamat sudah dekat karena pergi dengan menjual harta benda seolah-olah kehidupan akan segera berakhir. Bahkan di Dusun tersebut diduga telah beredar 7 fatwa Thoriqoh Musa yang menyimpang. Mulai dari soal kiamat, huru-hara, kekeringan, bendera tauhid, foto anti gempa, larangan sekolah hingga hukuman untuk orang tua.

Ternyata, fatwa atau doktrin kiamat tidak hanya menyihir puluhan warga Ponorogo. Di beberapa kota seperti Jember, Jombang dan Mojokerto, fatwa tersebut juga diduga turut menuntun warga pergi Miftahul Falahil Mubtadin yang ada di Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang.

Di Jember, total ada 15 orang dari 8 KK di di Desa Umbulsari dan Gunungsari yang berangkat ke ponpes tersebut. Menurut Kades Umbulsari, Fauzi, sebelumnya 15 warga tersebut diajak Ustaz Mudasir untuk menjadi MUSA AS atau jemaah Thoriqoh Akmaliyah As- Sholihiyah yang kini dikenal sebagai Thoriqoh Musa. Di sana, thoriqoh tersebut sudah berjalan selama 2 tahun.


"Kemudian muncul desas-desus akan ada kiamat. Karena kebetulan ada saudara saya ikut aliran itu, dan menjual tanah miliknya, karena tidak berguna lagi jika kiamat," kata Fauzi saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (15/3).

Bahkan, ada seorang istri yang nekat akan meminta cerai pada sang suami lantaran ditinggal mondok ke Malang. Ia kesal karena sang suami mondok dengan menjual harta benda.

"Saya pasrah dunia habis (harta benda), pokok suami dan anak pulang. Tapi kalau terus bertahan, saya minta cerai," ujar Rini dengan emosi saat dikonfirmasi wartawan.

Sedangkan di Mojokerto, pasutri Risky (25) dan Khurotul Aini (23) yang diduga sebagai jemaah Thoriqoh Musa atau MUSA AS. Mereka warga Desa Mojogeneng, Kecamatan Jatirejo. Ibu kandung Aini, Ninik Suwarni (59) mengatakan, putrinya itu berangkat pada Kamis (7/3) sekitar pukul 09.00 WIB.

Menurut dia, Aini berangkat bersama menantu dan teman dari menantunya, yaitu pasangan kekasih asal Desa Sumberagung, Kecamatan Jatirejo. Suami istri itu diduga terpapar doktrin kiamat karena rela menjual harta benda seolah kehidupan akan segera berakhir dan tidak ada lagi masa depan.


"Kata dia ini sebentar lagi kiamat, kurang dua bulan entah bagaimana. Uang tak laku, saya heran uang kok tak laku," kata Ninik kepada wartawan di rumahnya.

Jemaah Thoriqoh Musa atau Thoriqoh Akmaliyah As-sholihiyah mempunyai sosok pemimpin di Mojokerto. Yakni Muhammad Zainudin alias Udin (42). Ia merupakan warga Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Adik kandung Udin, Santi Umami (36) mengatakan, kakaknya sempat bertahun-tahun menuntut ilmu di Ponpes Miftahul Fallahil Mubtadin. Bapak empat anak itu juga meneruskan jejak almarhum bapaknya yang lama mengabdi kepada M Romli.

"SMA kelas satu kakak saya sudah mondok di sana. Berapa lama saya lupa," kata Santi kepada wartawan di rumahnya, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Jumat (15/3).


Doktrin kiamat juga menyihir satu keluarga di Kabupaten Jombang. Bahkan keluarga ini nekat menjual rumah dan ternak sebagai bekal hidup di Ponpes Miftahul Fallahil Mubtadin pimpinan M Romli

Keluarga yang dimaksud yakni keluarga Khoirul Fatikin (50), warga Dusun Jemparing, Desa Pakel, Kecamatan Bareng, Jombang. Fatikin memboyong istri dan ketiga anaknya untuk tinggal di Ponpes Miftahul Fallahil Mubtadin sejak Februari 2019.

"Kalau dua anaknya sudah mondok di sana. Kakak dan istrinya menyusul pindah ke sana Februari kemarin, tanggalnya lupa. Kakak saya bilang akan ada tanda-tanda kiamat, makanya dia pindah ke pondok itu," kata adik kandung Fatikin, Ahmad Burhanudin (34) kepada wartawan di rumahnya.
(sun/bdh)
FOKUS BERITA: Warga Terdoktrin Kiamat
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed