DetikNews
Kamis 14 Maret 2019, 21:35 WIB

Pengasuh Pondok Bantah Jual Foto Dirinya Rp 1 Juta untuk Anti Gempa

Muhammad Aminudin - detikNews
Pengasuh Pondok Bantah Jual Foto Dirinya Rp 1 Juta untuk Anti Gempa Pengasuh Ponpes Miftahul Fallahil Mubtadin M Romli/Foto: Muhammad Aminudin
FOKUS BERITA: Warga Terdoktrin Kiamat
Malang - Pengasuh Ponpes Miftahul Fallahil Mubtadin M Romli atau Gus Romli membantah dirinya menjual foto seharga Rp 1 juta. Menurut pengakuan pengurus, foto tersebut hanya dijual Rp 200 ribu bahkan dengan harga sukarela.

"Semua itu tidak benar, ada yang memfitnah soal itu. Saya merasa sakit dengan fitnah ini. Karena semua tidak pernah saya lakukan. Bahkan, saya marah kepada pengurus apakah benar menjual foto seharga itu, mereka bilang hanya menjual seharga Rp 200 ribu dan itu dibayar secara sukarela," kata Gus Romli di Ponpes, Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Kamis (14/3/2019).

Sebelumnya beredar kabar jika foto Romli dijual Rp 1 juta di Dusun Krajan, Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo. Foto tersebut dipercaya ampuh sebagai alat anti gempa.


Selain masalah foto, Romli juga menanggapi soal fatwa kemarau panjang yang akan berlangsung selama 3 tahun. Sehingga jemaah harus menyetor 500 kg gabah ke pondok pesantren. Menurutnya, fatwa tersebut tidak tepat.

Pengasuh Pondok Bantah Jual Foto Dirinya Rp 1 Juta untuk Anti GempaFoto: Charolin Pebrianti

Romli menjelaskan, pihak pesantren memang mengimbau para jemaah yang hendak mondok untuk membawa 500 kg gabah, tapi itu untuk bekal masing-masing jemaah selama mondok atau selama mengikuti kegiatan triwulanan mulai Rajab hingga Ramadan.


"Kalau gabah 5 kuintal, kalau beras 3 kuintal, untuk siapa, untuk mereka sendiri selama di sini. Setelah Ramadan selesai, mereka akan pulang dan membawa kembali gabah dan beras masing-masing ke kampung halaman," lanjut Romli.

Romli bahkan meminta media untuk melihat langsung gabah-gabah yang ditimbun jemaah. Dirinya sebagai pengasuh juga menyediakan tempat bagi jemaah untuk menetap selama tiga bulan.

"Saya tidak pernah memaksa, mereka datang sendiri ke sini. Dengan adanya ini, saya juga menyampaikan kalau mau pulang silakan pulang, tapi jangan pamit saya. Mau tetap di sini ya silakan," pungkas Romli.

Sebelumnya, 52 warga Ponorogo pindah ke pondok tersebut karena mendapat fatwa soal kiamat yang semakin dekat dan bencana huru hara menjelang Ramadan. Mereka mendapat fatwa tersebut dari seorang bernama Khotimun yang mengajarkan Thoriqoh Musa.
(sun/bdh)
FOKUS BERITA: Warga Terdoktrin Kiamat
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed