detikNews
Kamis 14 Maret 2019, 10:37 WIB

Di Tangan Para Napi, Stik Es Krim Jadi Karya Seni Bernilai

Charolin Pebrianti - detikNews
Di Tangan Para Napi, Stik Es Krim Jadi Karya Seni Bernilai Kerajinan tangan Napi Ponorogo dari stik es krim/Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Jeruji besi hanya mengurung fisik Imam Mujiono. Namun jiwa kreatif napi di Ponorogo ini tetap bebas bahkan menemukan jalannya. Berbekal cutter, lem dan stik es krim, ia mampu menghasilkan sebuah karya seni yang bernilai.

Imam membuat miniatur motor besar, mobil, perahu, bus, dan lain-lain. Kreativitas yang dimiliki Imam saat ini bukan hasil tempaan di dalam rutan. Jadi sebelum terjerat kasus pencurian dan penjualan barang, pria 48 tahun itu memang pembuat mainan anak-anak.

"Kalau di sini alatnya terbatas, jadi harus memaksimalkan imajinasi," kata warga Desa Sidoarjo, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo saat ditemui detikcom di kantor Rutan Ponorogo Kelas II B, Jalan Soekarno-Hatta, Kamis (14/3/2019).

Saat ditemui detikcom, ia tengah sibuk membuat miniatur motor besar. Berada di ruang Balai Latihan Kerja (BLK) Rutan, Imam tampak serius menggabungkan potongan-potongan stik es krim dengan menggunakan lem.

"Bahan bakunya biasanya disediakan petugas, saya dan teman saya nanti yang nyusun. Teman saya bagian spare part," imbuhnya.

Pria yang sering dipanggil Kijon ini mampu membuat mainan berukuran kecil selama 2 hari. Sedangkan ukuran besar seperti miniatur kapal pesiar bisa memakan waktu 1 minggu.

Kerajinan tangan napi Rutan Ponorogo/Kerajinan tangan napi Rutan Ponorogo/ Foto: Charolin Pebrianti


"Modal awalnya biasanya habis stik es krim seharga Rp 20 ribu dan lemnya habis Rp 60 ribu," ujar dia.

Untuk satu miniatur motor besar, Kijon menjual seharga Rp 700 ribu. Sedangkan yang kecil seharga Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu. Tergantung ukuran serta habisnya bahan baku.

"Pesanan hampir tiap hari ada terus dari pembesuk dan teman," tambahnya.

Dari semua hasil karyanya, yang paling banyak diminati yakni kotak tisu berukuran 30 x 22 cm. Sebab, kotak tisu tersebut diberi ukiran bunga sehingga tampak lebih menawan.

"Kotak tisu saya jual Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu tergantung ukurannya," papar dia.

Meski bahan bakunya dari stik es krim, hasil karyanya dijamin awet. Pasalnya, setiap karya selalu diberi pernis.

Kerajinan buatan napi Rutan Ponorogo/Kerajinan buatan napi Rutan Ponorogo/ Foto: Charolin Pebrianti

"Biar mengkilap dan bagus serta tahan lama," lanjutnya.

Kasie Pelayanan Taufiqul Hidayat menambahkan, itu merupakan kegiatan untuk mengisi waktu luang selama menjalani masa hukuman.

Para petugas mendukung dengan membantu mereka dalam menjual karyanya. Caranya dengan memajang hasil karya para napi di dekat kantin. Agar selain pembesuk, para petugas atau napi lain bisa tertarik dan membeli hasil karya mereka.

"Sekaligus untuk bekal mereka ketika keluar dari lapas bisa menjadi modal usaha mereka," pungkasnya.
(sun/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed