Berada di lempengan besar Indoaustralia dan Eurasia membuat Malang rentan diguncang gempa bumi. Kepala BMKG Karangkates, Kabupaten Malang, Musripan mengatakan, gempa bumi yang terjadi belum berdampak pada kerusakan bangunan apalagi menelan korban.
Baca juga: Gempa Magnitudo 5,2 Terjadi di Malang |
"Sampai sekarang belum kami terima dampak dari gempa yang terjadi. Sepanjang Maret sudah terjadi 23 kali gempa bumi di Malang," ujar Musripan pada detikcom, Senin (11/3/2019).
Ia mengatakan, gempa tektonik berpusat di Samudera Hindia. Kemudian gempa yang terakhir terjadi di Malang berada pada koordinat 9,64 LS dan 112,63 BT. Tepatnya berada di laut dengan jarak 166 kilometer arah selatan Kepanjen, Kabupaten Malang dan dengan kedalaman 64 kilometer.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, tampak bahwa gempa bumi berkedalaman dangkal ini diakibatkan oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Lempang Eurasia. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme sesar naik (thsrust fault)," beber Musripan.
Ia menambahkan, sepanjang pantai selatan Pulau Jawa, Sumatra, Bali serta Nusa Tenggara Timur menjadi tempat pertemuan lempeng tektonik besar yaitu Indoaustralia dan Eurasia.
Akibat pertemuan tersebut menghasilkan energi atau disebut gempa. "Kenapa kok selatan Malang yang sering? Sebenarnya tidak juga. Nusa Tenggara Timur, Bali, dan Sumatra juga sering terjadi gempa akibat pertemuan lempeng besar itu. Tetapi yang jelas pertemuan lempeng tersebut berpotensi besar menimbulkan gempa bumi," pungkas Musripan. (sun/bdh)











































