detikNews
Jumat 08 Maret 2019, 19:41 WIB

Banyuwangi Gandeng BPPT Garap Pengembangan Kopi dan Coklat

Ardian Fanani - detikNews
Banyuwangi Gandeng BPPT Garap Pengembangan Kopi dan Coklat Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi berkolaborasi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyiapkan SDM pengembangan kopi dan cokelat dari hulu ke hilir. Fokus kolaborasi ini adalah para pelajar SMK dan santri untuk didorong menjadi pegiat bisnis rintisan kopi dan cokelat.

Kepala BPPT Hammam Riza menjelaskan, kolaborasi dengan Banyuwangi melibatkan banyak bidang teknologi. BPPT bakal fokus pengembangan kopi dan kakao. Itu pun dilakukan mulai dari hulu hingga hilir.

"Kami fokus membantu dari hulu ke hilir untuk teknologi pangan," kata Hammam kepada detikcom, usai penandatanganan MoU kerjasama di Pendopo Sabha Swagata, Jumat (8/3/2019).

Untuk hulu, BPPT membantu budidaya kopi dan kakao lewat teknologi smart farming. Bila produktivitas sudah meningkat, selanjutnya tahapan pengolahan kopi dan kakao untuk menghasilkan kopi dan cokelat dengan keunggulan rasa.


"Proses hulu ke hilir itu untuk mencetak technopreneur agribisnis. Kami salut dengan Banyuwangi yang melibatkan pelajar dan santri untuk dilatih, ikut bimbingan teknis pengolahan dan pengembangan kopi dan cokelat," kata Hammam.

"Dengan melibatkan santri dan SMK, bisa menumbuhkan young technopreneur yang berbasis pertanian. BPPT siap total membantu Banyuwangi," pungkasnya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut baik kerjasama dengan BPPT tersebut. Ini sebagai bentuk penyiapan SDM kopi dan kakao di Banyuwangi.

Anas mengatakan, kopi dan cokelat dipilih karena trennya terus berkembang pesat. Saat ini muncul lebih dari 100 bisnis rintisan kopi dan cokelat dengan berbagai merek yang digerakkan anak-anak muda Banyuwangi.

"Konsumsi kopi Indonesia cuma 1,5 kilogram per kapita per tahun. Jepang 5 kilogaram, Finlandia bahkan 12 kilogram. Pasar ke depan sangat cerah. Kalau naik 4 kilogram per kapita per tahun, kebutuhan kopi dalam negeri tembus 1 juta ton, melebihi produksi sekarang, kita bakal kewalahan, maka butuh SDM yang kompeten dari hulu ke hilir," ujarnya.


Demikian pula konsumsi cokelat Indonesia masih sangat rendah, hanya kisaran 0,4 kilogram per kapita per tahun. Di Singapura, misalnya, konsumsinya tembus 1 kilogram per kapita per tahun.

"Kopi dan cokelat bisa menjadi ladang bisnis menggiurkan bagi lulusan SMK dan santri. Kuncinya tiga: bikin produk yang baik, jangan kemahalan dan jangan kemurahan, pasarkan online. Sudah itu saja, Insya Allah laris," paparnya.

Dalam kolaborasi ini, pada tahap awal, ratusan siswa dan santri dari 10 SMK dan pesantren dilatih hulu ke hilir kopi dan cokelat.

"Ini juga menerjemahkan arahan Presiden Jokowi bahwa anak-anak muda sejak dini harus didesain sebagai generasi kreatif, termasuk soal kewirausahaan. Ketika bertemu para bupati, Pak Jokowi mencontohkan besarnya potensi kopi sebagai penggerak ekonomi rakyat," kata Anas.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com