DetikNews
Selasa 26 Februari 2019, 13:40 WIB

Ini Kesaksian Warga Soal Bocah Meninggal Akibat Suara Sound System

Erliana Riady - detikNews
Ini Kesaksian Warga Soal Bocah Meninggal Akibat Suara Sound System Lokasi bocah tewas dengan suara sound system/Foto: Istimewa
Blitar - Kematian bocah berusia 9 tahun akibat suara sound system menyisakan cerita memprihatinkan. Korban diduga mengalami serangan jantung karena kaget bunyi sound system yang tiba-tiba berbunyi keras, di acara hajatan di Dusun Sumberjo Rt 02/03 Desa Karangrejo Kecamatan Garum.

Namun yang memprihatinkan, korban kemungkinan mengidap penyakit dalam karena perokok akut. Padahal usianya masih 9 tahun dan duduk di kelas 2 SD.

Penuturan beberapa saksi mata di lokasi kejadian, korban ditemukan tertelungkup di depan sound system yang menyala keras, Senin (25/2/2019) sekitar pukul 15.35 wib. Adalah Tri Basofi Choirul Anwar (23) yang melihat pertama kali korban tertelungkup di depan sound system.

"Rumah saya di depan rumah yang punya hajat. Saat itu saya berjalan ke arah rumah habis bantu-bantu. Sampai rumah, saya ngobrol dengan istri saya di ruang tamu. Lha pandangan saya terus tertuju pada sound system. Di depannya, ada tubuh anak kecil tertelungkup," kata Tri mengawali ceritanya ke polisi, Selasa (26/2/2019).


Tri lalu mendekati tubuh si bocah. Namun tubuh itu tidak bergerak sama sekali. Tri yang merasa takut lalu memanggil istrinya Dian Safana. Tubuh bocah lalu diangkat Dian dan dimasukkan ke dalam rumah mereka.

"Setelah kami perhatikan ternyata ini anaknya tetangga sebelah. Namanya KI. Tapi sudah meninggal dunia. Saya sama istri memberitahu warga lain dan ada yang melaporkannya ke polisi," tuturnya.

Polisi yang menerima laporan langsung menuju lokasi kejadian. Mereka datang bersama tim medis Puskesmas Garum dan tim identifikasi Polres Blitar.

"Hasil visum luar, korban diduga meninggal karena serangan jantung. Dan dari keterangan keluarganya korban ini perokok akut. Kemungkinan korban memang sudah ada penyakit bagian dalam," kata Kapolsek Garum AKP Rusmin dikonfirmasi.


Fakta ini tentu mengejutkan pihak kepolisian. Mengingat usia korban masih 9 tahun dan masih duduk di kelas 2 SD. Keterangan lain dari beberapa warga, korban tergolong anak yang hiper aktif dan berani pada orang tuanya.

"Dia sering kumpul bapak-bapak, minta rokok ke mereka. Kadang juga ngelinting sendiri. Ibunya juga cerita, sering minta uang buat beli rokok. Kalau tidak dikasih, ibunya dipukuli," ungkap kapolsek.

Beberapa warga sekitar juga bercerita, jika perangai buruk KI dilatarbelakangi kondisi orang tuanya yang menderita keterbelakangan mental. Ayah KI berusia sekitar 65, sudah tidak produktif dan mengalami keterbelakangan mental. Kakak perempuannya juga mengalami kondisi serupa, bahkan meninggalkan rumah sudah lama. Sementara ibunya, sudah berusia 60 tahun jarang berada di rumah. Dari pagi hingga petang, ibunya membantu tetangga sekitar yang membutuhkan tenaganya.

Terkait volume sound system yang mengeluarkan suara keras saat kejadian, Rusmin menyatakan normal volume orang menggelar hajatan.


"Karena itu jam orang istirahat siang, sebenarnya volumenya dikecilkan. Tapi karena sound systemnya besar, jadi suaranya tetap keras. Apalagi kalau berdiri pas di depannya," imbuhnya.

Penyelidikan kasus ini tidak dilanjutkan. Sebab, keluarga korban menolak jika jenazah KI diautopsi. Mereka sudah mengikhlaskan kematian KI sebagai sebuah musibah. Keluarganya juga membuat surat pernyataan bermaterei, tidak akan menuntut pihak lain di kemudian hari.
(fat/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed