detikNews
Senin 25 Februari 2019, 09:16 WIB

Ban Bekas Disulap Jadi Sofa Cantik, Omzet Rp 7 Juta/Bulan

Enggran Eko Budianto - detikNews
Ban Bekas Disulap Jadi Sofa Cantik, Omzet Rp 7 Juta/Bulan Ban bekas disulap menjadi tampat sampah dan pot bunga (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto - Djainuri mampu meraup keuntungan berlipat ganda dari mengolah ban bekas menjadi tempat sampah, pot bunga, dan sofa. Setiap bulannya, pengrajin asal Desa Gayaman, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto ini rata-rata meraup keuntungan Rp 5,6 juta.

Ditemui wartawan di rumahnya, Dusun/Desa Gayaman, Djainuri nampak sibuk mengiris ban bekas motor menggunakan cutter. Pria 40 tahun itu memanfaatkan halaman rumahnya untuk mengerjakan kerajinan ini.

Dengan terampil, tangannya memotong ban motor itu hingga berbentuk pot dengan diameter sekitar 50 cm. Agar terlihat menarik, bapak tiga anak ini mewarnai pot dari ban bekas itu dengan cat besi. Sebagai warna dasar, dia menggunakan cat tembok agar cepat kering.

Khusus pekerjaan pengecatan ini, Djainuri dibantu 5 karyawannya. Pengecatan sendiri dilakukan secara manual menggunakan kuas. Tenaga-tenaga terampil yang diberdayakan Djainuri membuat pot berbahan ban bekas itu menjadi bermotif bunga dengan beragam warna.

"Saya menggunakan bahan ban bekas motor, mobil, dan ban bekas truk Fuso," kata Djainuri kepada wartawan di rumahnya, Senib (25/2/2019).

Djainuri mengaku membeli bahan baku ban bekas dengan harga sangat murah dari para pemilik bengkel tambal ban di Mojokerto dan sekitarnya. Ban bekas motor dia beli Rp 1.000/biji, ban mobil Rp 3-5 ribu/biji, sedangkan ban bekas truk Fuso dia dapatkan seharga Rp 25-30 ribu/buah.

Untuk membuat pot bunga, Djainuri menggunakan ban bekas motor matic bagian belakang atau ban bekas mobil karena ukurannya lebih besar. Di tangan suami Khafidlotul Ilmiah ini, setiap ban bekas bisa dijadikan satu pot bunga.

Sementara ban bekas truk Fuso yang ukurannya cukup besar, dia olah menjadi 6 tong sampah. Tong sampah yang dia produksi sudah lengkap dengan penutupnya. Selain itu, ban mobil juga digunakan Djunaidi menjadi bantalan sofa dan meja.

"Pot bunga saya dari ban sepeda motor saya jual Rp 30-60 ribu per buah, pot berbahan ban mobil Rp 70 ribu per buah, tong sampah Rp 95 ribu per buah, sofa Rp 350 ribu per buah, kalau satu set terdiri dari dua sofa dan satu meja saya jual Rp 1 juta," terangnya.


Omzet dari kerajinan ini mencapai Rp 7 juta per bulanOmzet dari kerajinan ini mencapai Rp 7 juta per bulan Foto: Enggran Eko Budianto


Inovasi dan keterampilannya mengolah ban bekas menjadi pot bunga, tong sampah dan sofa membuat Djainuri meraup keuntungan berlipat ganda. Bisnis yang dia tekuni selama 3 tahun terakhir itu, kini mulai banyak mendapatkan pesanan.

Setiap bulannya dia mengaku harus memenuhi pesanan dari Mojokerto, Jombang, Sidoarjo, dan Malang. Rata-rata pesanan dari sekolah dan perumahan yang dikerjakan Djunaidi mencapai 40 pot bunga, 20 tong sampah dan 8 set sofa.

"Rata-rata omzet saya Rp 6-7 juta. Keuntungan bersihnya sampai 80 persen karena bahan bakunya murah," ungkapnya.

Inspirasi bisnis pengolahan ban bekas ini didapatkan Djainuri dari lingkungan di sekitarnya. Salah satunya soal pot bunga berbahan semen yang mudah pecah. Ditambah lagi banyaknya sampah ban bekas yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

Ban bekas yang oleh warga di sekitar rumahnya dikirim ke sentra pembuatan bata merah sebagai bahan bakar itu lantas dimanfaatkan oleh Djainuri agar nilai ekonomisnya lebih meningkat.

"Tong sampah berbahan ban bekas ini bisa tahan sampai 5 tahun, kalau pot bunga lebih awet lagi," jelasnya.

Djunaidi kini juga melayani reparasi pot dan tong sampah yang rusak. Untuk jasa reparasi, dia mematok tarif Rp 30 ribu per buah.

"Saya juga mengerjakan desain taman menggunakan ban bekas. Selain pot dan tong sampah, juga saya buatkan hiasan berupa tiruan hewan atau simbol-simbol tertentu," tandasnya.
(fat/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com