DetikNews
Kamis 14 Februari 2019, 19:10 WIB

Sindikat Pemalsuan BPKB dan STNK di Lamongan Dibongkar

Eko Sudjarwo - detikNews
Sindikat Pemalsuan BPKB dan STNK di Lamongan Dibongkar Foto: Eko Sudjarwo
Lamongan - Sindikat pemalsuan BPKB dan STNK yang beroperasi di wilayah Lamongan, dibongkar. Tak hanya memalsukan, sindikat ini juga memalsukan nomor rangka dan mesin kendaraan bermotor.

Polisi mengamankan empat orang, sedangkan dua orang masih diburu. Empat orang itu yakni, Mahrus Efendi (22) warga Benjeng-Gresik, Arfai (45) warga Desa Jubel Kidul-Kecamatan Sugio, Ardi (40) warga Desa Wangunrejo-Kecamatan Lamongan dan Ghofur (35) warga Desa Kedali-Kecamatan Pucuk.

"Selain mereka berempat, ada juga 2 orang anggota sindikat yang masih DPO. Salah satunya pak dari pelaku yang sudah kami amankan ini," kata Kapolres Lamongan, AKBP Feby DP Hutagalung kepada wartawan di Mapolres Lamongan, Kamis (14/2/2019).

Pihaknya, jelas kapolres, juga mengamankan sejumlah barang bukti lainnya. Berupa 3 unit mobil Toyota Avanza dengan nopol L 1892 ZH, Daihatsu Terios dengan nopol S 1121 YA dan Daihatsu Luxio dengan nopol A 1335 NM yang dilengkapi dengan BPKB dan STNK Palsu.

Pengungkapan kasus ini berawal dari penangkapan Ardi dan Ghofur ketika hendak menjual kepada salah seseorang. "Modus yang digunakan, tersangka Arfai menyiapkan buku BPKB dan BPKB tembus yang didapatkan dari Jakarta, untuk kemudian diserahkan ke H. Maskurin yang masih DPO untuk dibuat sebagai surat dan buku kendaraan yang ada di tangan H. Maskurin," jelasnya.

Selanjutnya, H. Maskurin kemudian memalsukan nomor rangka dan nomor mesin kendaraan bermotor untuk disesuaikan dengan surat dan buku kendaraan yang sudah ada. Oleh Maskurin, kendaraan ini kemudian diberikan kepada anaknya, Mahrus untuk diserahkan kepada Ardi dan Ghofur untuk dicarikan pembeli.

"Treking atau penambalan nomor rangka dan mesin yang dilakukan sindikat ini terbilang rapi dan bersih, sehingga kami pun bekerja sama dengan Labfor untuk mencari tahu asal usul kendaraan," jelasnya.

Dari hasil penyelidikan, jelas dia, sindikat pemalsu kendaraan bermotor ini sudah 1 tahun beroperasi di Lamongan. Sekilas tidak ada yang beda antara surat-surat palsu dan asli karena yang dipakai untuk surat-surat kendaraan tersebut adalah buku dan surat asli kendaraan bermotor yang nama-namanya dihapus dan diubah sesuai keinginan mereka.

"Surat-surat dan buku kendaraan bermotor ini adalah asli yang didapat dari Jakarta, namun asa kesalahan fatal dalam penulisan karena di BPKB disebutkan ada tertera Polres Jatim," ungkap Feby.

Lalu, berapa mereka mematok harga kendaraan bermotor yang surat, buku dan nomor-nomornya telah dipalsukan itu? Feby menyebut kalau kendaraan tersebut mereka jual dengan harga jauh dari harga pasaran, yaitu di bawah Rp 100 juta.

"BPKB yang diperoleh tersangka tidak terdaftar di Korlantas karena semuanya palsu. Pelaku sangat pintar karena nomor rangka dan no mesin sudah dirubah dengan penanganan profesional, polisi masih kesulitan untuk mendapatkan informasi asal usul kendaraan sehingga secara kasat mata susah untuk membedakan noka nosin yang dikeluarkan pabrikan dengan hasil para tersangka," paparnya.

Kapolres akan mengembangkan kasus ini karena diduga telah beroperasi di daerah lain. Kini para tersangka dijerat dengan Pasal 263 ayat (1) KUHP atau pasal 266 ayat (1) KUHP Junto pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dan pasal 480 KUHP serta Pasal 263 KUHP dengan ancaman hukuman selama-lamanya 6 tahun dan pasal 266 KUHP dengan ancaman hukuman selama-lamanya 7 tahun dan pasal 480 diancam hukuman selama-lamanya 4 tahun penjara.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed