DetikNews
Kamis 14 Februari 2019, 16:10 WIB

Napak Tilas Jejak Supriyadi yang Tidak Ditulis Dalam Sejarah

Erliana Riady - detikNews
Napak Tilas Jejak Supriyadi yang Tidak Ditulis Dalam Sejarah Foto: Erliana Riady
Blitar - Tanggal 14 Februari diperingati sebagai Hari Pemberontakan Tentara PETA Blitar. Sejarah menulis, Komandan Batalyon PETA yang memimpin pemberontakan, yakni Sudanco Supriyadi telah hilang setelah pemberontakannya gagal.

Belum ada sejarah baru yang ditulis pemerintah, selain hanya memuat pernyataan Pemerintah Jepang, jika Supriyadi dinyatakan hilang.

Kisah akhir perjalanan hidup Sudanco Supriyadi, masih tetap menyisakan misteri. Walaupun keluarga besar Komandan PETA Blitar itu meyakini, kakak tiri mereka telah dibunuh Jepang. Namun masih banyak warga Blitar yang meyakini jika pahlawan PETA itu moksa (menghilang).

Di antaranya, pengakuan Muhayani. Santri berusia 87 tahun ini adalah warga Desa Krenceng Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Dia mengaku, menyaksikan jejak langkah Supriyadi terlihat terakhir kali.

Sebuah masjid bernama Baitul Yaqin, terletak di Desa Krenceng Kecamatan Nglegok, menjadi saksi bisu kehadiran Supriyadi di sini. Seorang ulama bernama KH Abdullah Syiraj, dikenal sebagai guru spiritual Supriyadi.


Di masjid inilah, para santri dan cantrik sang kiai, sering melihat Supriyadi sowan ngangsu kawruh kebatinan (memperdalam ilmu kebatinan). Bahkan saat terakhir, pascagagalnya pemberontakan PETA Blitar, pada 14 Februari 1945 sekitar pukul 03.00 wib.

Foto: Erliana Riady

Hubungan Supriyadi dengan KH. Abdullah Syiraj sangat dekat. Sehingga saat pemberontakan PETA yang ia pimpin gagal, ia melarikan diri ke rumah untuk meminta perlindungan. Hari itu tanggal 14 Februari 1945, sekitar pukul 09.00 wib.

Muhayani (87), seorang santri Kiai Abdullah Syirad, melihat Supriyadi masuk ke rumah sang kiai yang terletak disisi timur masjid.

"Dulu Supriyadi duduk di sini, menggunakan kursi ini. Persis seperti ini (duduknya)," ungkap Muhayani sambil mempraktekkan posisi duduk Supriyadi kala itu pada detikcom, Kamis (14/2/2019).

Muhayani yang saat itu berusia sekitar 12 tahun, masih hafal letak senjata serta posisi Supriyadi yang sedang beristirahat dirumah KH. Abdullah Syiraj.


"Waktu itu saya menyentuh senjata yang ditaruh di dalam rumah, langsung dibentak 'Le, ojo cedek-cedek mbledos engko' (Nak, jangan dekat-dekat, nanti meledak)," kenangnya.

Saat itulah, menurut kesaksian Muhayani, semua seragam tentara Supriyadi disuruh ganti. Supriyadi disuruh memakai pakaian layaknya warga desa. Kemudian pakaian Supriyadi dipendam di dalam rumah ini.

Foto: Erliana Riady

"Tapi saya lupa pas-nya dimana," ujarnya sambil menggaruk kepala.

Setelah itu, dihari yang sama usai salat zuhur, Supriyadi terlihat keluar dari rumah Sang Kiai berjalan ke arah timur. Sejak saat itu, Muhayani tak pernah melihat sosok Supriyadi lagi hingga usianya menginjak 87 tahun saat ini.

Seorang cucu Sang Kiai, Muhammad Nur juga menuturkan cerita tentang Supriyadi sudah sangat melekat di desa mereka. Cerita itu turun temurun dari kakeknya, hingga sekarang sejarah tersebut masih dituturkan. Apalagi peninggalan sejarah di sini juga masih ada.


"Bangunan rumah KH. Abdullah Syiraj yang berada di timur masjid itu, dulunya menjadi tempat menampung Supriyadi beserta bala tentaranya. Kini, bangunan tersebut beralih fungsi menjadi pondok thariqah. Bangunan itu bagi kami adalah peninggalan sejarah PETA," kata Muhammad Nuh meneruskan cerita Muhayani.

Namun keberadaan bangunan itu dilupakan dalam sejarah. Bahkan, setiap tahun agenda napak tilas perjalanan Supriyadi, bangunan ini tak pernah dikunjungi.

"Setiap napak tilas Supriyadi, warga Krenceng selalu bertanya-tanya kenapa kok tidak mampir kesini? Padahal ini adalah lokasi bersejarah tempat Supriyadi berada waktu itu," tutur Nuh.

Menurut Muhammad Nuh, sebagai cucu dan ahli waris KH. Abdullah Syiraj, ia berharap sejarah tersebut lebih banyak diketahui masyarakat. Ia pun lalu mengajak melihat makam KH. Abdullah Syiraj yang terletak di barat masjid.

"Kakek saya itu dibunuh oleh Jepang karena dianggap membantu pemberontakan Supriyadi. Dulu makamnya di Surabaya dan tahun 2007 dipindah ke sini," pungkasnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed