DetikNews
Kamis 14 Februari 2019, 16:24 WIB

Berhenti Kerja Demi Budidaya Ulat, Omzet Pria Ini Rp 3 Juta/Pekan

Erliana Riady - detikNews
Berhenti Kerja Demi Budidaya Ulat, Omzet Pria Ini Rp 3 Juta/Pekan Budidaya ulat hongkong/Foto: Erliana Riady
Blitar - Jika ada kemauan pasti ada jalan. Pepatah itulah yang diyakini Harno sehingga memilih keluar dari zona nyaman sebagai pekerja di pabrik roti. Kini sebagai peternak ulat hongkong, ia bisa meraup untung hingga Rp 3 juta per pekan.

Bagi Harno, warga Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, meninggalkan karier sebagai buruh pabrik bukan hal yang mudah. Pasalnya, meski hanya berstatus sebagai karyawan di Surabaya, namun gaji yang ia terima setiap bulan terbilang tinggi untuk ukuran orang desa.

Terlebih, pria berusia 34 tahun itu dipercaya sebagai mandor setelah bekerja selama tiga tahun. Namun bagi Harno, memiliki usaha sendiri akan lebih aman untuk masa depan keluarga yang baru dibangunnya.

"Keinginan punya usaha sendiri makin kuat setelah saya bertemu kawan lama. Mereka bilang, punya usaha sendiri lebih enak daripada ikut orang. Mulai saat itu, saya buka-buka internet dan tertarik budidaya ulat hongkong ini," kata Harno saat ditemui detikcom di rumahnya, Kamis (14/2/2019).

Saat jam istirahat kerja, Harno terus menggali ilmu dari internet tentang budidaya ulat hongkong. Dia juga mencari alamat dan menghubungi pembudidaya lain di wilayah Blitar untuk memperdalam teknik budidaya dengan benar.

Berhenti Kerja Demi Budidaya Ulat, Omzet Pria Ini Rp 3 Juta/PekanFoto: Erliana Riady

"Akhir tahun 2017 lalu saya putuskan keluar kerja. Pulang kampung dan mulai usaha sendiri budidaya ulat hongkong ini. Dari ilmu yang saya pelajari, usaha ini tidak terpengaruh cuaca. Selalu ada yang beli karena pakan burung untuk lomba," tambahnya.

Dari seorang teman di Kecamatan Talun, dia mendapatkan bibit ulat hongkong dan media untuk budidaya. Media itu berupa kotak triplek ukuran 70 x 100 cm. Selain media, Harno juga menyiapkan pakan berupa pelet lele.

"Ulat hongkong itu bisa berkembang baik kalau medianya selalu kering," lanjutnya.

Rupanya tangan dingin Harno membuahkan hasil. Dalam sepekan, dia sudah bisa menikmati hasil belajar kerasnya. Ulat Hongkong budidayanya sudah bisa dipanen.

"Ada pembeli yang datang ambil ke sini. Saat ini harga Rp 30 ribu per kg. Sekalinya panen itu saya dapat untung sampai Rp 3 juta," katanya sambil tertawa.

Pria di Blitar (Tengah) ternak ulat Hongkong/Pria di Blitar (Tengah) ternak ulat Hongkong/ Foto: Erliana Riady

Harno kini telah berada di zona aman dengan meraup untung sebesar Rp 3 juta per pekan. Menurutnya, kebutuhan ulat hongkong makin meningkat. Tak hanya dikirim ke Solo, namun permintaan juga datang dari Sulawesi dan Kalimantan.

"Tapi saya gak serakah dengan menambah media lebih banyak. Saya justru mengajak teman lain untuk punya usaha yang sama dengan saya. Biar bisa berbagi ilmu pada mereka," pungkasnya.
(iwd/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed