DetikNews
Kamis 14 Februari 2019, 12:23 WIB

Musim Hujan, Petani Padi di Ponorogo Masih Keluhkan Kekeringan

Charoline Pebrianti - detikNews
Musim Hujan, Petani Padi di Ponorogo Masih Keluhkan Kekeringan Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Kekeringan sepertinya enggan pergi dari bumi reog. Pasalnya, sejumlah petani di Desa Bancar, Kecamatan Bungkal mengeluhkan lahan padi miliknya kekeringan.

Tampak retakan-retakan tanah di lahan padi milik petani. Meski sebagian wilayah sudah mengalami musim penghujan, sumber air untuk pertanian masih belum ada.

Seperti yang dikeluhkan oleh Misran (55), sejak seminggu terakhir hujan tidak kunjung turun. Akibatnya, padi yang baru ditanam tidak bisa tumbuh subur.

"Hujan belum turun merata, sini masih jarang-jarang hujannya. Akhirnya sumber air sulit nggak mau naik meski sudah menggunakan diesel atau pompa air untuk pengairan," tutur dia saat ditemui detikcom, Kamis (14/2/2019).

Padahal biasanya, lanjut Misran, memasuki bulan Desember musim penghujan tiba hingga bulan Mei. Namun sayanga, meski sudah pertengahan bulan Februari curah hujan di Ponorogo cenderung rendah.


"Akhirnya sawah retak-retak, kami sudah berusaha mengairi dengan cara beli air dari sumur orang yang keluar airnya tapi usaha itu juga kurang membuahkan hasil sebab beli air kan mahal jadi kami batasi," terang dia.

Misran mengaku sudah menghabiskan biaya hingga Rp 2 juta untuk pengairan sawahnya sejak awal tanam. Padahal tanamannya masih membutuhkan pengairan hingga 2 bulan ke depan.

Kekeringan di Ponorogo/Kekeringan di Ponorogo/ Foto: Charolin Pebrianti

"Saya bingung juga, ini kalau diteruskan keuntungan tipis. Tapi kalau dibiarkan, saya juga rugi sudah habis banyak untuk pengairan," papar dia.

Sementara petani lain Supeno (60) mengeluhkan hal serupa. Perubahan cuaca yang mendadak, sebentar panas dan sebentar gerimis membuat padinya terserang virus. Meski tanaman padi terlihat subur dan hijau ternyata saat didekati bagian ujung daun berwarna kuning, indikator terkena virus.


"Sama masyarakat sini disebutnya potong leher, karena cuaca sering berubah-ubah akhirnya padi kena virus meski terlihat hijau," ujarnya.

Nantinya, lanjut Peno, tanaman padi yang sudah terkena virus potong leher mengakibatkan jumlah panen turun drastis. Karena bulir padi tidak sepenuhnya terisi.

"Nanti pas panen paling banyak yang gapuk (kosong)," tukasnya.

Peno pun berharap musim hujan segera merata di Ponorogo khususnya untuk petani padi. Sebab, petani disini membutuhkan sumber air dari hujan.

"Semoga bisa segera hujan, biar sumber air selalu ada dan tanaman bisa tumbuh dengan baik," tandasnya.

Sementara Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni mengaku belum mengetahui permasalahan ini.

"Kekeringan kenapa ya, nanti saya kirim orang kesana untuk ngecek langsung," tutur Ipong saat dihubungi detikcom.

Menurutnya, jika penyebabnya sumber air tidak keluar bisa saja karena mesin diesel atau pompa airnya rusak. Atau juga sumber airnya mengering jadi tidak bisa disedot.

"Jalan keluarnya bisa membangunkan sumur dalam atau diberi tambahan irigasi," tambahnya.


Soal Petani Bawang, Apa Kata Sandi? Simak Videonya:

[Gambas:Video 20detik]


Musim Hujan, Petani Padi di Ponorogo Masih Keluhkan Kekeringan

(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed