Bahan Baku Langka, Harga Dupa Saat Perayaan Imlek Melambung

Muhammad Aminudin - detikNews
Senin, 04 Feb 2019 10:10 WIB
Foto: Muhammad Aminudin
Foto: Muhammad Aminudin
Malang - Pernak pernik perayaan imlek selalu laris manis dijual di pasaran. Saking larisnya, pedagang menaikkan harga. Sebab, harga bahan baku di tingkat perajin turut melambung.

Di Malang, satu batang bambu atau lidi tembus hingga Rp 30 ribu. Perajin mengaku, kenaikan disebabkan langkanya bahan baku. Satu lidi ukuran kecil diperoleh perajin dupa di wilayah Wagir, Kabupaten Malang, seharga Rp 25 ribu. Untuk lidi besar dibandrol dengan harga Rp 30 ribu

Jika hari biasa, perajin mendapatkan stik atau lidi dupa hanya dengan harga Rp 20 ribu untuk ukuran besar, sedangkan ukuran kecil hanya Rp 25 ribu.

"Sekarang Rp 30 ribu untuk satu batang ukuran besar, bila hari biasanya hanya Rp 20 ribu. Harga naik, karena bahan bakunya sulit dicari," ungkap Sumiatin (55), perajin dupa di Wagir, Kabupaten Malang, Senin (4/2/2019).

Dia menjelaskan, kenaikan harga bambu terjadi sejak sebulan belakangan. Kata Sumiatin umumnya menjelang Imlek harga bahan baku kerap melonjak.

"Mungkin karena tingginya kebutuhan dupa dan pesanan dupa kepada perajin. Itu juga terjadi saat perayaan agama umat Hindu," jelas Sumiatin.

Saat ini, jelas dia, perajin dupa memang disulitkan dengan ketersediaan bahan baku. Dia mempunyai siasat tersendiri, dengan menggandeng pemasok tetap untuk mengirimkan batang bambu, supaya order atau pesanan yang diterima tidak sampai ditolak.

Sementara Rusdi (60), pengrajin lain mengakui sulitnya mencari bahan baku dupa yakni batang bambu. Perajin bahkan sampai berebut agar bisa mendapatkan stik atau batang bambu.

Foto: Muhammad Aminudin

Hal ini dikarenakan, tingginya permintaan dupa. Dalam sepekan saja permintaan dupa mencapai empat kuintal Bila hari biasanya tak mencapai jumlah tersebut (4 kuintal).

"Permintaan sangat tinggi, wajar kalau semua perajin berebut bahan baku utama yakni batang bambu untuk dupa. Dalam seminggu bisa sampai 4 kwintal dupa yang dipesan," terang Rusdi terpisah.

Batang bambu untuk dupa disetorkan kepada perajin lainnya di Desa Bedalisodo atau Petungsewu, di kecamatan yang sama (Wagir).

Selanjutnya, batang bambu diberi bubuk kayu dan dikirim ke Pulau Bali untuk proses selanjutnya. Biasanya, dupa setengah jadi tersebut ditabur kayu cendana sebagai pewangi sebelum kemudian dijual ke pasaran. (fat/fat)