Rumah Orang Tua Pahlawan PETA Supriyadi Dijual

Erliana Riady - detikNews
Senin, 28 Jan 2019 10:58 WIB
Foto: Erliana Riady
Blitar - Rangkaian cerita sejarah PETA, tak lepas dari keberadaan rumah di Jalan Sudanco Supriyadi no 42 ini. Dari rumah di Kelurahan Bendogerit Kecamatan Sananwetan Kota Blitar inilah, para penelusur sejarah mencari fakta kebenarannya.

Rumah bergaya kolonial ini adalah rumah orang tua Komandan PETA Blitar Sudanco Supriyadi. Aset pribadi ini atas nama Raden Darmadi, mantan Bupati Blitar yang menjabat sejak tahun 1945 dan berakhir tahun 1956. Sebuah tulisan terpahat di bagian atas depan terbaca jelas 'Wisma Darmadi'.

Walaupun menurut cerita Supriyadi tak pernah menjejakkan kakinya di rumah ini, namun keberadaan rumah ini tak bisa lepas dari untaian cerita sejarah PETA. Seorang adik tiri Supriyadi yang bernama Suroto, kerab disambangi para penelusur sejarah untuk mendapatkan keterangannya terkait sejarah PETA.


Kini, di depan halaman rumah bercat putih itu terpampang tulisan DIJUAL 856 m². Ada dua nomor handphone yang bisa dihubungi jika ada calon pembeli yang berminat transaksi.

Saat detikcom bertandang, kondisi rumah yang pintunya selalu tertutup itu tidak ada orang. Hanya jendela bercat kuning dibuka, namun tak ada orang di dalamnya.

Rumah Orang Tua Pahlawan PETA Supriyadi DijualFoto: Erliana Riady

"Pak Suroto keluar cari makan mungkin. Kosong mbak, gak ada orangnya," ujar tetangga sebelah timur rumah itu menyahut salam detikcom, Senin (28/1/2019).

Detikcom pun berusaha menghubungi dua nomor handphone yang tertulis di papan penjualan. Satu nomor tidak pernah direspon. Satu nomor lainnya, diangkat suara pria yang kedengaran sudah berusia lanjut.


"Iya saya Hadiono Darmadi. Anaknya mantan Bupati Blitar. Memang benar rumah itu dijual. Alasannya dijual....ya memang dijual. Langsung temui di rumah saya saja kalau memang minat," kata Hadiono di ujung telepon.

Wisma Darmadi berdiri di atas tanas seluas 856 m², berada di jalur utama Kota Blitar. Sederet dengan kawasan rumah dinas para pejabat dan hanya sekitar 300 meter dari Monumen PETA.

Mendekati bulan Februari, kesibukan selalu nampak di sekitar monumen untuk memperingati Hari Peta pada tiap tanggal 14. Pun begitu dengan Wisma Darmadi. Ada saja wartawan yang datang mengunjungi Suroto, untuk mengulik perca cerita PETA yang masih menyisakan misteri. Jika rumah ini telah berpindah tangan ke orang lain, lalu kemana pencari fakta sejarah merajut kembali kisahnya Supriyadi? (iwd/iwd)