Saat tiba di Banyuwangi, Amiruddin disambut para relawannya di Banyuwangi. Sebenarnya mereka ingin menyertai Amiruddin berjalan kaki. Namun lantaran dijemput 4 orang yakni polisi, relawan, babinsa dan kades, akhirnya mereka menunggu di Balai Desa Ketapang. Saat itu pula Amiruddin langsung diinterogasi warga.
Dalam konferensi persnya, Amiruddin menyampaikan bahwa ia berjalan kaki dari Sumatera Utara ke Banyuwangi, bukan untuk menemui ibunya. Melainkan hanya nazar karena diberi kesembuhan terhadap sakitnya.
"Saya mohon maaf kepada para relawan seluruh Indonesia, sebenarnya saya berjalan kaki ke Banyuwangi tanpa tujuan. Ibu kandung saya itu ada di Sumatera Utara, sekali lagi saya mohon maaf atas kekhilafan saya," paparnya.
Sementara Slamet Kasihono, Kades Ketapang, Kecamatan Kalipuro, membenarkan jika Amiruddin saat ini tiba di Banyuwangi. Ia juga menyampaikan bahwa ibu kandung Amiruddin tidak tinggal di desanya. Melainkan tinggal di Sumatera Utara.
"Saat ini yang bersangkutan masih beristirahat. Dari pengakuannya ia berjalan kaki ke Banyuwangi hanya untuk menjalankan nazar karena diberi kesembuhan dari sakit lumpuhnya," jelasnya.
Amiruddin berangkat dari Sumatera Utara, 20 November 2018 lalu. Dalam perjalanan, Amirudiin didampingi para relawan. Titik awal perjalanan Amiruddin, sapaan akrabnya, dimulai dari Desa Mandailing, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Begadai, Sumatera Utara.
Dari Kota Medan, perjalanan ke wilayah tersebut memerlukan waktu sekitar 3 jam. Setelah berjalan selama kurang lebih 2 bulan untuk memenuhi nazarnya, Amiruddin akhirnya tiba ke Kabupaten Banyuwangi dan saat ini berada di Desa Ketapang Kalipuro.
(fat/fat)
