Bahkan sebagian besar warga tampak sudah terbiasa dengan banjir tahunan ini. Beberapa warga bahkan asyik memancing di depan rumahnya. Sunarti salah satu warga di Desa Kedungringin, Pasuruan, sibuk menangkap ikan yang masuk ke rumahnya dengan jaring tangan.
"Ini dapat lele. Lumayan bisa buat lauk," kata Sunarti menunjukkan ikan lele tangkapannya, Rabu (23/1/2019).
Selain Sunarti, seorang warga Balangbuntung di Kecamatan Beji, juga terbiasa memancing jika banjir datang.
"Saya ndak tahu ikan-ikan ini dari mana. Tapi kalau saat banjir, di sekitar rumah saya banyak ikan," tambah Agus (55) saat ditemui di samping rumahnya.
Selama ini Desa Kedungringin, Kedungboto dan Balangbuntung di Kecamatan Beji, di antara desa-desa yang selalu dilanda banjir. Setiap tahun puluhan desa di Kabupaten Pasuruan langganan banjir baik karena luapan sungai maupun drainase yang kurang baik.
Baca juga: 135 KK Masih Terdampak Banjir di Pasuruan |
![]() |
Ketiga desa ini dilanda banjir akibat luapan Sungai Wrati dan sudah berlangsung sepekan. Tinggi air masih mencapai 30 centimeter di jalan dan 20 centimeter di dalam rumah. Banjir di ketiga desa ini pasang surut tergantung kondisi hujan.
Banjir yang sudah berlangsung sepekan ini jelas merugikan warga karena menghambat semua kegiatan, terutama aktivitas domestik seperti memasak dan rumah tangga.
"Sudah seminggu, airnya pasang surut. Kalau hujan pasang kalau sehari nggak hutan surut," tegasnya.
Dia mengaku, selama sepekan dia hanya mendapat bantuan mi instan. "Sudah ada (bantuan). Dikasih mi," ujarnya.
Meski begitu, sebagian besar warga tampak sudah terbiasa dengan banjir tahunan ini. Data yang dihimpun, selain tiga desa di atas, Desa Manaruwi, Kecamatan Bangil juga banjir. Beberapa desa dan kelurahan di Bangil juga jadi langganan banjir.
Banjir di desa-desa ini terjadi setiap musim hujan. Saat puncaknya banjir bisa mencapai 60 centimeter di jalan desa dan 30-40 centimeter di dalam rumah-rumah. Pemerintah setempat belum bisa mengatasi kondisi tersebut. (fat/fat)