DetikNews
Rabu 16 Januari 2019, 14:21 WIB

384 Kontainer Kayu Merbau Asal Papua Senilai Rp 100 Miliar Disita

Amir Baihaqi - detikNews
384 Kontainer Kayu Merbau Asal Papua Senilai Rp 100 Miliar Disita Foto: Amir Baihaqi
Surabaya - Sebanyak 384 kontainer berisi kayu ilegal jenis merbau asal Papua berhasil disita Ditjen Penegakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Penyitaan tersebut merupakan hasil operasi pengamanan di dua tempat yakni Surabaya dan Makassar.

Ditjen Penegakan Hukum KLHK Rasio Ridho Sani mengatakan pihaknya telah mempersiapkan operasi itu sudah cukup lama. Persiapan itu khusus dilakukan untuk melihat pergerakan kayu-kayu ilegal dari Papua.

"Kita lakukan operasi di akhir tahun ini ada 40 kontainer yang kita temukan di Tanjung Perak Surabaya yang dibawa oleh perusahaan pelayaran PT SPIL melalui kapal Jelita Hijau. Kemudian dari informasi yang ada, kami kembangkan," kata Rasio di Pelabuhan peti kemas Teluk Lamong, Rabu (16/1/2019).

"Dan ternyata ada pergerakan kayu dari Papua yang menuju Surabaya. Tapi sebelumnya singgah di Jakarta kemudian balik ke Makassar dan kami intersep atau sergap bersama TNI AL itu ada 57 kontainer ini yang dibawa oleh perusahaan PT Temas," lanjutnya.


Lalu pada waktu bersamaan, tambah dia, pihaknya juga kembali mengamankan 88 kontainer yang diduga tanpa disertai dokumen yang sah dan juga dibawa PT SPIL.

Di sini (Teluk Lamong) ada 199 kontainer yang dibawa oleh PT Temas. Jadi, 284 kontainer itu adalah 88 yang ada di PT SPIL dan 199 kontainer ada di PT Temas yang ada di sini. Total yang sudah kita kumpulkan selama satu bulan 384 kontainer yang kita nilai lebih dari Rp 100 miliar," terang Rasio.

"Kontainer-kontainer itu dibawa oleh 4 kapal yang berbeda-beda dari 2 perusahaan pelayaran yaitu PT Temas dan PT SPIL. Untuk jenis kayunya seluruhnya dari jenis kayu premium yakni merbau," bebernya.


Sedangkan untuk tindaklanjutnya, Rasio mengaku masih mengembangkan lagi. Apakah melibatkan atau ada indikasi perusahaan lagi yang terlibat. Karena masih pengembangan dan penyelidikan pihaknya mengaku belum bisa memastikan status kayu-kayu ilegal tersebut.

"Kami sedang kembangkan apakah ada perusahaan lain yang terlibat. Dan saat ini kami sudah libatkan 60 penyidik untuk memastikan. Kami juga belum tahu karena masih menunggu pengadilan. Bisa saja kalau akan dilelang dan uangnya dimasukan ke negara," tandasnya.
(fat/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed