DetikNews
Rabu 09 Januari 2019, 08:24 WIB

Kasus DBD di Jombang-Mojokerto Meningkat, Dua Warga Meninggal

Enggran Eko Budianto - detikNews
Kasus DBD di Jombang-Mojokerto Meningkat, Dua Warga Meninggal Foto: Enggran Eko Budianto
Jombang - Bukannya menurun, jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Jombang dan Mojokerto justru meningkat dari tahun ke tahun. Tercatat 2 korban meninggal akibat gigitan nyamuk aedes aegypti.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Mojokerto, dr Langit Kresna Janitra mengatakan, sepanjang 2018 jumlah penderita DBD mencapai 404 orang. Dari jumlah itu, 46 orang mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS).

Penderita DBD justru naik jika dibandingkan tahun 2017, yakni 320 orang. Dia memastikan sejauh ini belum ada penderita yang meninggal dunia.

"Peningkatan itu terjadi karena faktor lingkungan. Masih banyak genangan air menjadi tempat tumbuhnya jentik nyamuk, juga ventilasi dan pencahayaan rumah yang kurang sehingga rumah gelap dan menjadi sarang nyamuk," kata dr Langit kepada detikcom di kantornya, Jalan RA Bauni, Sooko, Rabu (9/1/2019).

Sepanjang 2018, kasus DBD sebagian besar terjadi di Kecamatan Puri, yaitu 64 penderita. Disusul Kecamatan Sooko 44 penderita, Trowulan 39 penderita, serta Kecamatan Bangsal 29 penderita.

"Berdasarkan data di puskesmas, kasus DBD banyak terjadi di Puri karena di sana masih banyak genangan air, saluran air mampet, serta pola makan warganya yang kurang teratur sehingga daya tahan tubuhnya rendah," ungkap dr Langit.

Membludaknya kasus DBD terjadi pada bulan Januari dan Juni. Sepanjang Januari tercatat 57 penderita, sedangkan Juni ada 55 penderita.

Menurut Langit, bulan-bulan tersebut merupakan masa peralihan musim kemarau ke penghujan dan sebaliknya. Hujan yang jarang turun justru menjadi momen paling baik untuk berkembangbiaknya nyamuk aedes aegypti.

"Sebagian besar penderita DBD usia 15-44 tahun, yakni 162 orang. Disusul usia 5-9 tahun mencapai 84 orang. Karena usia segitu sudah mobile, pola makan kurang teratur, bisa jadi kena gigitan nyamuk di daerah lain," terangnya.

Mulai awal 2019, dr Langit mengaku menggencarkan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) agar kasus DBD bisa ditekan. Menurut dia, PSN lebih efektif dibandingkan fogging yang hanya membunuh nyamuk dewasa. Dinas Kesehatan pun menggelar PSN secara bergilir ke 18 kecamatan.

"Gerakan PSN lebih menyeluruh, mulai dari mengecek genangan air, ventilasi rumah hingga pemberantasan jentik nyamuk. Juga kami wajibkan petugas puskesmas melakukan PSN rutin setiap hari Jumat," tegasnya.

Kasus DBD di Jombang juga meningkat di tahun 2018 dibandingkan tahun 2017. Sepanjang 2018 terdapat 411 orang menderita DBD.

"Dibandingkan tahun 2017 memang meningkat. Mulai meningkat sejak Oktober 2018, sejak masuk musim penghujan. Paling banyak di Jombang Kota karena penduduknya lebih padat," jelas Kabid P2P Dinkes Jombang Wahyu Srihartini.

Sejauh ini tercatat 2 warga Jombang tewas akibat DBD. Korban meninggal di Kecamatan Jombang Kota dan Jogoroto.

"Karena keterlambatan membawa ke rumah sakit. Dikiranya demam biasa," tandas Wahyu.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed