detikNews
Kamis 03 Januari 2019, 09:26 WIB

Duh, Pelajar Masih Dominasi Pelanggaran Lalu Lintas di Surabaya

Deny Prastyo Utomo - detikNews
Duh, Pelajar Masih Dominasi Pelanggaran Lalu Lintas di Surabaya Kasatlantas Polrestabes Surabaya AKBP Eva Guna Pan Pandia. (Foto: Rois Jajeli)
Surabaya - Angka pelanggaran lalu lintas di Kota Surabaya pada tahun 2018 dilaporkan meningkat dibandingkan pada tahun 2017. Ironisnya, pelajar juga masih menjadi pelanggar lalu lintas tertinggi di wilayah ini.

Dari data Satlantas Polrestabes Surabaya, pelanggaran lalu lintas yang disebabkan oleh pengendara roda dua dan roda empat mengalami kenaikan 3 persen di tahun 2018.

Terbukti pada tahun 2017, pelanggaran lalu lintasnya tercatat sebanyak 239.088 kasus, namun pada tahun 2018 tercatat 245.499 kasus. Dari angka tersebut, pelanggaran yang dilakukan oleh pelajar di tahun 2017 mencapai 53.260 kasus, namun di tahun 2018 tercatat sebanyak 56.333 kasus.


Dari catatan detikcom, ada beberapa contoh kasus yang menjadi sorotan terkait pelanggaran lalu lintas yang dilakukan pelajar di Surabaya. Seperti halnya yang terjadi pada tanggal 1 Mei silam.

Seorang pelajar kedapatan mengendarai motor sport lalu menabrak ambulans usai menerobos lampu merah di perempatan Jalan Kertajaya. Akibatnya insiden tersebut, pelajar ini dilaporkan meninggal dunia.

Kasus kedua baru saja terjadi menjelang akhir tahun 2018, tepatnya pada tanggal 28 Desember dini hari lalu. Saat itu seorang pelajar tertangkap mengendarai mobil lalu menerobos lampu merah dan menabrak dua pemotor di perempatan Jalan Polisi Istimewa.


Kasatlantas Polrestabes Surabaya AKBP Eva Guna Pan Pandia mengatakan masalah kesadaran berlalu lintas di kalangan pelajar menjadi atensi khusus bagi jajaran Polrestabes Surabaya.

"Masalah pelajar adalah menjadi atensi khusus kami. Karena kenapa, para orang tua ini salah kaprah dalam mendidik anaknya. Terlalu sayangnya orang tua kepada anak-anaknya, mereka dengan mudah menuruti. Saat mereka meminta sepeda motor, sebetulnya mereka tidak paham kalau anaknya masih di bawah umur dan tidak memiliki SIM. Mereka tidak tahu risikonya bagaimana," kata Pandia kepada detikcom, Kamis (3/1/2019).

Untuk itu, Pandia juga mengungkapkan, salah satu cara ampuh untuk menekan pelanggaran berlalu lintas yang dilakukan oleh pelajar tak dapat dilepaskan dari peran orang tua dan para pendidik di sekolah.

"Kami terus melakukan sosialisasi kepada para pelajar di jalan dan di sekolahan, tapi yang paling penting adalah peran orangtua dan para pendidik sebab mereka adalah orang yang paling intens berinteraksi. Mereka juga memiliki peran sangat penting dalam menginggatkan, meski progam besar sosialisasi kami adalah itu," ujar Pandia.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com