detikNews
Rabu 02 Januari 2019, 13:06 WIB

Kaleidoskop 2018

Amblesnya Jalan Gubeng, Imbas Proyek Basemen RS yang Bermasalah

Fatichatun Nadhiroh - detikNews
Amblesnya Jalan Gubeng, Imbas Proyek Basemen RS yang Bermasalah Foto: Deny Prastyo Utomo/File
Surabaya - Di penghujung tahun 2018, tak ada hujan dan tak ada angin publik dikejutkan amblesnya Jalan Raya Gubeng, Kota Surabaya. Peristiwa yang terjadi pada Selasa (18/12) malam ini membuat lubang menganga bak jurang, sedalam 20 meter dengan panjang 50 meter.

Lubang yang membelah Jalan Gubeng tepat di depan Kantor BNI cabang Gubeng dan Toko Tas Elizabeth, ini merupakan imbas proyek pembuatan basemen RS Siloam Surabaya.

Beruntung saat kejadian, tidak ada kendaraan yang melintas di jalan tersebut. Meski begitu 9 tiang tegangan menengah 20 kV dan 2 trafo khusus pelanggan (BNI 46 dan Toko Elizabeth) serta 1 buah trafo PLN untuk proyek RS Siloam yang ikut roboh.

Bahkan kantor Bank BNI 46 Kantor Wilayah Urip Sumoharjo di Jalan Raya Gubeng, Surabaya mengevakuasi barang-barang berharga miliknya, untuk pindah ke Kantor BNI Pusat Surabaya yang berada di Graha Pangeran, Jalan Ahmad Yani. Pelayanan perbankan juga dipindah ke sana.


Peristiwa baru pertama kali terjadi di Indonesia ini terjadi membuat semua pihak angkat bicara. Tak terkecuali Wali Kota Tri Rismaharini. Meski saat kejadian, Risma belum tampak batang hidungnya, namun kemunculan Risma berkursi roda membuat warga kaget. Pasalnya, kaki Risma keseleo saat mengatur lalu lintas di HR Muhammad kala hujan deras.

Namun pagi, siang, sore dan malam, Risma selalu memantau perkembangan amblesnya Jalan Gubeng. Melalui akun instagramnya, Risma mengimbau warga agar tetap tenang.

Foto: Deny Prastyo Utomo

"Terkait amblesnya Jalan Gubeng, kepada warga Surabaya mohon tetap tenang, dan untuk sementara waktu untuk menghindari Jalan Gubeng serta tidak terpancing dengan berita yang belum tentu kebenarannya," tulis Risma.


Dia pun sudah menerjunkan petugas gabungan Linmas dan PMK di lokasi untuk pengamanan dan melakukan tindakan yang diperlukan. Risma menyebut Pemkot Surabaya tak memiliki kewenangan untuk proyek swasta ini. Dia mengatakan tak ingin dianggap melakukan hal-hal yang mengada-ada. Selain itu, Risma menegaskan tak ingin dituduh mencari-cari uang.

"Iya kan apa namanya kalau kita izin ya izin aja. Emang peraturannya begitu, kita ndak punya kewenangan untuk mengawasi. Kalau kita mengawasi dikira mengada-ada, nggolek duwik. Karena kita ndak ada kewenangan untuk mengawasi. Jadi di aturan sampai pusat itu tidak ada. Saat AMDAL, saat IMB itu ada pernyataan yang itu semua di atas materai," kata Risma.

Selain wali kota Surabaya, polisi dan kementerian PUPR juga memanggil kontraktor proyek basemen RS Siloam Surabaya, proyek PT Nusa Konstruksi Enjiniring (NKE). Mereka memanggil dan memeriksa saksi. Sebab, proses pembangunan basemen rawan longsor. Karena pihak kontraktor melakukan penggalian dengan kedalaman yang cukup dalam.


Ahli Geologi yang juga Wakil Ketua Persatuan Insinyur Indonesia, Gentur Prihantono menyebut jika amblesnya Jalan Gubeng dari pengamatan sementara, karena faktor air. Sebetulnya struktur jalan ini sudah mantap 100 persen, bahkan tidak ada penurunan. Jika ada penurunan, bila ada kegiatan sifatnya pembangunan di tepi jalan atau di mana saja, faktor air tidak dipertimbangkan bisa ini (ambles, red)," terangnya.

Foto: Deny Prastyo Utomo

Sementara RS Siloam Surabaya melalui General Affair Manager Budijanto Surjowinoto mengatakan pihaknya telah menyerahkan pelaksanaan proyek ini kepada kontraktor yakni PT Nusa Konstruksi Enjiniring (NKE).

Budijanto menegaskan pihak RS Siloam merupakan pengguna jika pembangunan ini telah rampung. "Sedang dilakukan proyek pembangunan sarana ritel dan sarana kesehatan oleh pemilik proyek. Pemilik proyek telah menyerahkan pelaksanaan proyek sepenuhnya kepada kontraktor, yaitu PT NKE. Dalam hal tersebut, RS Siloam Surabaya nantinya hanya sebagai pengguna/penyewa pada saat bangunan sudah selesai," imbuh Budijanto.


Menurut pakar dari Departemen Teknik Sipil ITS, Prof Ir Indrasurya B Mochtar, MSc, PhD, kejadian ini tidak dapat sepenuhnya disebut sebagai longsor, karena volume tanah yang berpindah ke proyek galian basement tidak sebanyak yang lazimnya terjadi karena longsor.

"Jadi kemungkinan ada sebagian tanah yang ambles masuk ke dalam perut bumi," ungkapnya dalam rilis yang diterima detikcom).

Namun Indra menegaskan penyebab amblesnya jalan itu tidak dapat langsung ditentukan tanpa pengkajian yang lebih mendalam.

Foto: Deny Prastyo Utomo


Selain itu, Kepala Laboratorium Mekanika Tanah ITS tersebut menemukan ada sejumlah 'keunikan' pada kasus amblesnya Jalan Gubeng ini. Semisal hanya satu sisi yang ambles, yaitu sisi jalan raya, sedangkan di sisi lainnya, bangunan-bangunan dengan ukuran relatif besar masih dapat berdiri kokoh.

Kedua, pada umumnya tanah ambles terjadi sebagai dampak dari turunnya air hujan yang sangat lebat. Namun faktanya, beberapa jam sebelum kejadian tidak terjadi hujan dalam intensitas yang cukup besar di area tersebut.

Ketiga, didasarkan dari data persebaran struktur tanah di Surabaya, struktur tanah di proyek tersebut disebut layak untuk penggalian basement.


"Hal ini juga didukung dengan salah satu sisi penggalian yang belum memiliki dinding penyangga yang kokoh tapi tidak terjadi perpindahan tanah sedikitpun," ungkapnya.

Namun baginya upaya yang paling penting dilakukan saat ini adalah memulihkan fungsi jalan yang terputus total akibat amblesnya jalan.

Foto: Deny Prastyo Utomo

"Tujuannya agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat kembali dengan aman dan nyaman. Sebab putusnya jalan searah itu berakibat munculnya beberapa titik kepadatan lalu lintas kendaraan di sekitar ruas kejadian," paparnya.


Sementara untuk pemulihan Jalan Gubeng membutuhkan waktu 9 hari hingga kembali beraspal.
Membutuhkan 1.000 truk sirtu untuk menguruk jalan tersebut. Material diturunkan sejak Rabu (19/12). Ribuan truk tersebut menguruk sirtu tiada henti, dengan biaya pihak kontraktor.

Sebelum bisa dilewati kendaraan dengan normal, dilakukan uji coba terlebih dulu atas rekomendasi dari Komite Keselamatan Kontruksi (Komite K2) dan Tim Mitigasi Kelongsoran Jalan Gubeng dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VIII.

Dan pada Kamis (27/12/2018) Jalan Gubeng bisa diakses melalui berbagai arah seperti dari arah Ngagel, Jalan Sulawesi, hingga Keputran. Meski begitu di lokasi ada petugas yang ditempatkan untuk berjaga. Pihaknya juga menyiapkan posko untuk pemantauan.


Penyidik Polda Jatim telah menetapkan satu tersangka terkait amblesnya Jalan Gubeng yang dipicu oleh proyek basemen di belakang RS Siloam Surabaya.

Foto: Antara Foto/Didik Suhartono.

"Terkait dengan penyidikan memang sudah ada beberapa orang yang akan dijadikan sebagai tersangka. Yang jelas baru satu orang berinisal F," ungkap Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan kepada wartawan saat meninjau Jalan Gubeng.

Kapolda menegaskan, penetapan ini didasarkan barang bukti yang ada di lapangan dan sesuai dengan dokumen yang ada. Ia juga menyebut peran si tersangka dalam kasus ini. "Yang jelas baru satu tersangka. Bidang perencanaan, dari pihak perencanaan," tandasnya.


Dari keterangan saksi-saksi ini, pihaknya meyakini akan ada tersangka baru.

"Tapi yang jelas nanti akan berkembang. Saat ini saksi masih sedang liburan. Mereka kooperatif datang ke sini untuk menjelaskan dan kita untuk menentukan seseorang harus berdasarkan bukti-bukti. Walaupun bukti-bukti sudah ada, azaz praduga tak bersalah tetap kita junjung tinggi," pungkasnya.



Saksikan juga video 'Polisi Panggil Pengelola Proyek Terkait Amblesnya Jalan Gubeng':

[Gambas:Video 20detik]


(fat/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed