DetikNews
Selasa 18 Desember 2018, 09:29 WIB

Di Lamongan Lipan Banyak Diburu di Musim Hujan, Hasilnya Lumayan

Eko Sudjarwo - detikNews
Di Lamongan Lipan Banyak Diburu di Musim Hujan, Hasilnya Lumayan Lipan hasil buruan (Foto: Eko Sudjarwo)
Lamongan - Musim penghujan ternyata membawa berkah tersendiri bagi sebagian warga. Salah satunya yang ketiban rejeki adalah pemburu Lipan atau kelabang. Arthropoda yang dikenal berbisa ini memang banyak ditemukan ketika memasuki musim penghujan.

Salah satu pemburu lipan yang melakukan aksinya di saat musim penghujan adalah Isyom Basuni, warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Mantup. Isyom yang sehari-harinya bekerja di penggilingan padi ini hampir tiap malam menyusuri pematang sawah untuk mencari Kelabang di musim hujan.

"Sudah 3 tahun terakhir ini saya jadi pemburu kelabang, tapi ya cuma saat musim hujan saja," kata Isom kepada detikcom, Selasa (18/12/2018).

Isyom mengatakan dirinya sudah terbiasa terkena sengatan hewan nocturnal ini. Bisa yang ada pada lipan apabila terkena sengat, akan menyebabkan bengkak dan bentol-bentol. Namun ras asakit itu seakan tak dihiraukan Isyom.

"Hanya berbekal alat yang sangat sederhana, yakni sumpit panjang untuk menangkap kelabang dan senter kepala untuk penerangan," kata Isyom.

Sebagai wadah untuk hasil buruannya, Isyom membawa kaleng berisi air yang sebelumnya sudah ia campur dengan deterjen. Air campuran deterjen ini, menurut Isyom, sekaligus untuk mematikan kelabang yang sudah ditangkap.


Isyom saat berburu lipanIsyom saat berburu lipan (Foto: Eko Sudjarwo)


"Setelah hujan lebih banyak yang keluar dari sarangnya, biasanya keluar dari sela tanah, tumpukan daun dan ranting," ujar pria yang siangnya bekerja di penggilingan padi ini.

Lalu, jam berapa Isyom mulai melakukan aksinya? Biasanya, Isyom berburu mulai pukul 8 hingga pukul 11 malam. Sekali berburu, Ia mengaku dapat mengumpulkan hingga 50 ekor lipan. Binatang yang memiliki nama ilmiah Centipede ini, kata Isyom, memiliki harga jual yang cukup tinggi di tingkat pengepul, yakni Rp 3.100 untuk kelabang berukuran sebesar jari kelingking orang dewasa.

"Paling sedikit 25-30 ekor, kalau lagi banyak bisa sampai 50 ekor," tutur Isyom yang mengaku pekerjaan sampingannya ini bisa untuk menambah penghasilan.

Isyom menambahkan dari tangan pengepul, binatang yang memiliki sepasang kaki di setiap ruas dalam tubuhnya itu di jual lagi ke China untuk bahan ramuan obat.

"Katanya kelabang itu dijual ke China, untuk ramuan obat," kata Isyom sembari menuturkan kalau sebenarnya ada banyak rekan sejawatnya yang juga memburu lipan, tapi mereka lebih banyak bekerja sendiri-sendiri dan terpencar.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed