Jurnalis Mojokerto dan Kediri Kompak Protes Pernyataan Prabowo

Jurnalis Mojokerto dan Kediri Kompak Protes Pernyataan Prabowo

Andhika Dwi, Enggran Eko Budianto - detikNews
Rabu, 12 Des 2018 18:50 WIB
Jurnalis Mojokerto dan Kediri Kompak Protes Pernyataan Prabowo
Foto: Andhika Dwi
Mojokerto - Pernyataan Prabowo Subianto terkait peliputan media terhadap reuni 212 di Jakarta beberapa waktu lalu, juga menuai protes dari wartawan. Mereka menilai pernyataan Capres nomor urut 2 itu telah merendahkan profesi jurnalis. Aksi turun ke jalan ini mereka gelar lantaran adanya ketakutan kebebasan pers akan dilemahkan jika Prabowo terpilih pada Pilpres 2019.

Aksi damai belasan wartawan yang tergabung dalam Komunitas Pers Mojokerto ini digelar di tugu UKS, Jalan Jayanegara, Kecamatan Puri. Sekitar pukul 15.39 WIB, mereka mulai berorasi sembari membentangkan poster.

Poster-poster tersebut bertuliskan Jangan mengintimidasi profesi wartawan, Hargai profesi wartawan, Jangan mendiskreditkan profesi wartawan, Jangan Kriminalisasi wartawan, serta Masing-masing kita punya hak dan kewajiban saling lah menghormati.

Tak hanya berorasi menyampaikan aspirasi mereka, belasan insan pers ini juga menggelar tabur bunga terhadap kartu pers mereka masing-masing. Melalui tabur bunga, mereka ingin menunjukkan tengah terjadinya pembunuhan karakter terhadap profesi jurnalis.

Meski berlangsung hanya sekitar 20 menit, aksi para wartawan ini menarik perhatian para pengguna jalan. Tak sedikit pengedara sepeda motor yang melambat untuk melihat aksi para awak media ini.

"Ini bentuk keprihatinan kami. Bahwa jurnalis itu sebuah profesi. Kami jurnalis ini netral ya, jangan dikaitkan dengan politik. Ini juga pernyataan sikap kami terhadap pernyataan Pak Prabowo media tidak fair atas kejadian di Jakarta. Kami netral, kami jurnalis bekerja sesuai dengan undang-undang," kata Koordinator Aksi Roni Yunarto kepada detikcom di lokasi, Rabu (12/12/2018).

Di Kediri, 20 jurnalis yang mengatas namakan diri Solidaritas Peduli Wartawan Kediri melakukan aksi damai di Simpang Empat Taman Sekartaji Kota Kediri.

Mereka menuntut Prabowo Subianto meminta maaf kepada kalangan jurnalis, menyusul pernyataannya dianggap meremehkan dan merendahkan profesi wartawan.

Sejumlah poster tuntutan seperti, "Prabowo harus minta maaf kepada media", "Boikot pemberitaan soal prabowo", "Tak pantas Prabowo sebagai tokoh bangsa meremehkan jurnalis" diusung oleh para pendemo.

Seperti yang diutarakan oleh Hartono selaku Koordinator aksi damai menjelaskan, pernyataan tokoh bangsa Prabowo Subianto dianggap sangat merendahkan terutama menganggap bahwa ada oknum wartawan yang selalu mencari cari kesalahan Prabowo.

Jurnalis Mojokerto dan Kediri Kompak Protes Penyataan PrabowoFoto: Enggran Eko Budianto

Jika memang ada oknum wartawan yang dianggap mencari cari kesalahan, Prabowo bisa melaporkan jurnalis yang bersngkutan ke pihak kepolisian atau dewan pers, tidak justru mengumbar statment merendahkan profesi.

"Kami menganggap ada statmen dari Prabowo yang meremehkan dan merendahkan profesi wartawan yang dianggap mencari cari kesalahan dirinya, padahal jika memang ada yang mencari kesalahan, seharusnya bisa melaporkan ke polisi atu dewan pers. Tidak mengumbar statment dan merendahkan profesi," jelas Hartono.

Prabowo mengatakan Reuni 212 merupakan kejadian pertama berkumpulnya jutaan manusia tanpa dibiayai siapa pun. Prabowo heran mengapa banyak media besar--katanya--tak meliput peristiwa tersebut.

"Mereka dibiayai oleh dirinya sendiri dan rekannya sendiri dan mereka yang mau bantu rakyat sekitarnya. Saya kira belum pernah terjadi. Tapi hebatnya, media-media yang kondang, media dengan nama besar, media yang mengatakan dirinya objektif, bertanggung jawab untuk membela demokrasi, padahal justru mereka ikut bertanggung jawab, mereka bagian dari usaha manipulasi demokrasi," kata Prabowo dalam pidatonya dalam acara peringatan Hari Disabilitas Internasional di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Rabu (5/12).

Prabowo menyebut ada upaya besar untuk memanipulasi demokrasi di Indonesia. Caranya, kata dia, lewat duit. Prabowo kembali mengkritik pers.

"Mereka mengira dengan uang yang besar, uang yang didapat dari praktik-praktik yang tidak benar, kasarnya uang dari yang mereka dapat dari mencuri uang rakyat Indonesia, dengan uang itu mereka mau menyogok semua lapisan bangsa Indonesia. Semua lapisan. Parpol mau dibeli, pejabat mau dibeli di mana-mana, rakyat mau dibohongi, rakyat mau dicuci otaknya dengan pers yang terus terang banyak bohongnya dari benernya," sebutnya.

Prabowo melanjutkan kritiknya dengan menceritakan bahwa dirinya setiap pagi menerima koran dari 8 media. Eks Danjen Kopassus itu mengaku melihat isi koran itu untuk mengetahui kebohongan apa yang kini--menurutnya--diterbitkan.

"Saudara-saudara, aku tiap hari ada kira-kira 5-8 koran yang datang ke tempat saya, saya mau lihat, bohong apa lagi nih, bohong apa lagi nih, itu aja, saya hanya mau lihat itu. Bohong apa lagi yang mau mereka cetak. Dan puncaknya kemarin hari Minggu, puncaknya mereka menelanjangi diri mereka di hadapan rakyat Indonesia. Ada belasan juta mereka tak mau melaporkan, mereka telah mengkhianati tugas mereka sebagai wartawan, tugas mereka sebagai jurnalis," ucap Prabowo.

"Saya katakan, 'Hei media-media yang kemarin tidak mau mengatakan ada belasan juta orang atau minimal berapa juta di situ, kau sudah tak berhak menyandang predikat jurnalis lagi. Boleh kau cetak, boleh kau ke sini dan ke sana. Saya tidak mengakui Anda sebagai jurnalis. Ndak usah, saya sarankan kalian tidak usah hormat sama mereka lagi, mereka hanya antek orang yang ingin menghancurkan republik Indonesia,'" pungkas Prabowo. (fat/bdh)
Berita Terkait