Laidia mengaku menjadi cantin bukanlah perkara mudah untuk menyelami pasangan-pasangan baru yang mau menikah. Rata-rata mereka malu-malu untuk diajak berinteraksi. Meski ada beberapa yang suka iseng menggoda dan nyeletuk. Salah satu ungkapan yang sering dikeluarkan adalah 'Bundanya cantik, tapi cantikan istri saya'.
"Mereka lucu-lucu sekaligus malu-malu. Nah, tugas saya sebenarnya membekali setiap peserta dengan tujuan pernikahan dan menciptakan hubungan yang baik. Dari sinilah ada kepuasan tersendiri untuk tujuan yang ingin dicapai. Yakni keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, kekal hingga akhir zaman," kata Laidia dalam perbincangannya dengan detikcom, Selasa (4/12/2018).
Laidia mengatakan hal pertama yang akan dia tanyakan pada seorang cantin adalah apa tujuan mengikuti bimbingan tersebut. Setelah itu mereka akan diminta menuliskan harapan-harapan yang mereka inginkan dari mengikuti bimbingan.
"Rata-rata jawaban mereka ingin mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah sesuai tuntunan agama. Nah tugas kita ke sana, agar mereka mencapai yang diinginkan. Khawatirnya, mereka tidak bisa mencapai maksud tujuan dari sebuah pernikahan," tambah wanita dua anak ini.
Lulusan UIN-SA ini pun mencontohkan saat meminta pasangan cantin menggambar sungai kehidupan dengan 3 batu dan menuliskan usia cantin di ujung sungai dan di ujung lainnya batas usia yang diharapkan.
Calon pengantin usai mendapat bimbingan/ Foto: Icha |
"Misalnya kita menuliskan harapan usia kita 80 tahun, lalu di atas batu yang kedua kita tulis selisih umur harapan dengan umur kita saat ini, jadi kalau usia saat ini 43 tahun dengan harapan usia 80 tahun masih ada sisa waktu sekitar 37 tahun lalu. Kemudian 37 tahun ini kita bagi menjadi 5 tahunan dan masing-masing dari 5 tahunan ini, kita ingin menuliskan harapan-harapan apa yang kita inginkan," kata Laidia memberi contoh.
Dari serangkaian kegiatan ini, lanjut Laidia, dia bersama cantin akan merangkum pentingnya perkawinan dan keluarga yang kemudian akan diselaraskan dengan cita-cita hidup.
"Dalam bimbingan, kami juga menjelaskan empat pilar perkawinan yang menentukan sebuah keluarga akan kokoh atau rapuh. Empat pilar ini di antaranya adalah berpasangan, janji kokoh atau disebut mitsaqon gholidoh antara suami dan istri, saling memperlakukan pasangan dengan baik dan bermartabat dan yang terakhir musyawarah, terutama jika menghadapi masalah," papar wanita asal Tuban ini.
Saat ditanya ada keluhan selama membimbing cantin? Laidia mengaku tidak ada keluhan. Justru merasa senang. Apalagi jika mereka bisa menyelami apa keinginan dan kemauan dari pasangan masing-masing.
"Kebanyakan malah ngaku senang, karena orangtua mereka belum pernah melakukan kegiatan bimbingan pra nikah semacam ini," aku Laidia yang mengaku dalam sehari bisa membimbing para cantin di 3 tempat berbeda.
Penyuka bakso ini kerap mendapat guyonan yang meminta agar dirinya menjadi cantin lagi. Namun, gurauan para cantin inipun dibalas dengan senyuman. "Masak jadi cantin lagi, satu kali aja sudah cukup," ujarnya.
Dirinya berharap bimbingan yang digelar Kemenag ini membawa para cantin yang akan mengarungi bahtera rumah tangga bisa sehidup semati. "Tujuan dari dilakukan bimbingan ini sendiri ini kan mengurangi angka perceraian yang semakin meningkat di tiap tahunnya. Jadi ini program pemerintah yang memang dikhususkan untuk mengurangi nilai perceraian," harapnya. (fat/iwd)











































Calon pengantin usai mendapat bimbingan/ Foto: Icha