Gamelan Buatan Pengrajin Mojokerto Diminati Malaysia hingga Jerman

Enggran Eko Budianto - detikNews
Sabtu, 01 Des 2018 11:21 WIB
Samiaji tengah mengerjakan gong. (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto - Di bengkel semi permanen tepat di belakang rumahnya, Samiaji (69) nampak sibuk mengerjakan sejumlah perangkat gamelan pesanan pembeli. Tak sendirian, kakek lima cucu ini dibantu tiga karyawan, serta salah satu cucu dan anaknya.

Di usianya yang melebihi setengah abad, Samiaji masih nampak piawai menyetel suara gamelan. Usai menghaluskan bagian ujung gong, dengan teliti suami Khasanah (69) ini mengecek kualitas suara gong berdiamter 1 meter tersebut.

"Saya dulu belajar dari bapak saya sejak kelas 6 Sekolah Rakyat. Setelah bapak meninggal, saya mewarisi usaha ini," kata Samiaji kepada detikcom di bengkel kerjanya, Sabtu (1/12/2018).

Tak hanya gong, Samiaji juga mampu membuat seluruh perangkat gamelan, mulai dari kempul, kenong, bonang, demung, saron, peking, slentem, gender, gambang hingga rebab.


Berbeda dengan gamelan dari Solo yang berbahan campuran tembaga dan timah, gamelan buatan Samiaji berbahan pelat besi. Ketebalan pelat yang digunakannya juga beragam.

Untuk membuat gong diameter 1 meter, bapak dua anak ini menggunakan pelat besi setebal 2 mm. Sementara untuk perangkat gamelan lainnya cukup dengan pelat setebal 1,5 mm.

Sedangkan untuk membuat perangkat gamelan jenis gong, kempul, kenong dan bonang, ia harus mengerjakan tiga bagian yang dibuat terpisah, yaitu bagian dasar, lempengan tengah dan pencu atau bagian ujung yang ditabuh. Ketiga bagian itu lantas disatukan dengan cara dilas.

"Selanjutnya tinggal dilaras (disetel suaranya) dan dicat dengan warna emas," terangnya.

Gamelan Buatan Pengrajin Mojokerto Diminati Malaysia hingga JermanGamelan sejenis gong terbuat dari tiga bagian yang kemudian disatukan dengan cara dilas. (Foto: Enggran Eko Budianto)

Untuk membuat satu set gamelan, Samiaji mengaku membutuhkan waktu 2-3 bulan. Itu sudah termasuk proses pembuatan wadah gamelan berbahan kayu. Wadah-wadah tersebut juga dilengkapi dengan ukiran khas Solo.

"Setiap proses pembuatan gamelan ini lama, mulai dari memotong pelat besi hingga membentuk dan menghaluskannya itu butuh ketelitian. Belum lagi menyetel nada gamelan, itu butuh keahlian khusus," ungkapnya.

Namun warga Dusun/Desa Sawo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto ini tak hanya melayani pembuatan satu set gamelan. Ia juga bersedia membuatkan perangkat gamelan sesuai pesanan pembeli atau bisa satuan.

Gamelan Buatan Pengrajin Mojokerto Diminati Malaysia hingga JermanSatu perangkat gamelan juga sudah termasuk wadah kayunya. (Foto: Enggran Eko Budianto)

Soal harga, perangkat gamelan bikinan Samiaji dibanderol dengan harga yang sangat bervariasi. Semisal gong dibanderol seharga Rp 2 juta, kempul Rp 600 ribu, kenong Rp 400 ribu, bonang Rp 200 ribu, demung Rp 700 ribu, saron Rp 1 juta dan peking Rp 700 ribu. Sedangkan Slentem, Gender dan Gambang dibanderol masing-masing seharga Rp 1,5 juta.

"Kalau satu set lengkap harganya Rp 30 juta, itu yang berbahan besi," ujarnya.

Pesanan gamelan pun datang dari berbagai daerah. Hal ini diungkapkan cucu Samiaji, Dedi Febrianto (35). Mulai dari Sumenep, Probolinggo, Lamongan, Bojonegoro, Surabaya, Gresik, Malang hingga Kediri.


Menurutnya, rata-rata jumlah pesanan mencapai 10 perangkat gamelan setiap bulannya dan perangkat gamelan yang banyak diminati jenis bonang, kenong serta kempul.

"Pemesan biasanya pemilik hiburan kuda lumping, reog, wayang kulit. Ada juga pesanan dari sekolah dan instansi," jelasnya.

Dengan pesanan mencapai 10 perangkat setiap bulan, Dedi mengungkapkan omzet yang didapat dari bisnis gamelan ini mencapai Rp 10 juta/bulan.

Tak hanya dari Jatim, tambah Dedi, pesanan gamelan juga datang dari NTB dan Kalimantan. Bahkan pembeli gamelan buatannya juga datang dari Malaysia dan Jerman. Khusus pengiriman ke luar negeri, harga gamelan dipatok dua kali lipat dari harga pesanan lokal.

"Pesanan dari Malaysia dua set gamelan, pernah juga pesanan gong diameter 2 meter dari Jerman. Harganya lebih mahal karena biaya pengiriman juga mahal," tutupnya.


Saksikan juga video ' Bangga! Angklung Masuk Kurikulum di Sekolah Inggris ':

[Gambas:Video 20detik]

(lll/lll)