detikNews
Kamis 29 November 2018, 08:18 WIB

Yuk Vote Surabaya, Satu-satunya Wakil Indonesia di Guangzhou Award

Rahma Lillahi Sativa - detikNews
Yuk Vote Surabaya, Satu-satunya Wakil Indonesia di Guangzhou Award Foto: Icha
Surabaya - Kota Surabaya sedang punya hajat yaitu mengincar sebuah penghargaan bergengsi bernama Guangzhou International Award for Urban Innovation 2018. Seperti apa perjalanannya?

Tercatat Kota Surabaya sudah tiga kali gagal masuk deretan kota yang layak dinominasikan untuk meraih penghargaan tersebut. Namun setelah mengajukan proposal untuk keempat kalinya, upaya Kota Surabaya pun mulai membuahkan hasil.

Menariknya, saat penilaian, Kabag Humas Pemkot Surabaya M Fikser mengatakan kala itu para juri diam-diam datang ke Surabaya.

"Para juri datang bersamaan dengan acara UCLG (UCLG ASPAC atau United Cities and Local Governments Asia Pacific) beberapa waktu lalu. Tanpa pemberitahuan dan tidak mau ditemani pemkot Surabaya. Mereka ingin lihat dampak yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya secara langsung," paparnya saat berbincang dengan detikcom, Rabu (28/11/2018).


Seleksinya pun ketat sebab ada 900 kota yang memperebutkan penghargaan ini. "Penyeleksiannya dari 900 kota, diseleksi menjadi 169 kota dari 66 negara, kemudian diseleksi lagi menjadi 15 kota," terang Fikser.

Untuk bisa ambil bagian dalam penghargaan ini, Surabaya mengajukan inovasi pengelolaan sampah yang menggunakan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle). Inovasi ini memang menjadi andalan Surabaya karena sudah diakui keberhasilannya.

Dalam program pengelolaan sampah di Surabaya ini, pemerintah melibatkan masyarakat sejak dari rumah, yaitu memilah sampah dan mengelolanya secara mandiri. Selain itu, Pemkot Surabaya memiliki 26 rumah kompos serta pusat daur ulang sampah di Jambangan dan Sutorejo.

Contoh program sukses lainnya adalah pemberlakuan aturan membayar dengan botol plastik atau sampah ketika naik Bus Suroboyo. "Bagi penumpang yang akan naik harus membawa 5 botol ukuran tanggung, 3 botol besar, 10 gelas air mineral, kantong plastik (kresek), dan kemasan plastik," kata Wali Kota Tri Rismaharini beberapa waktu lalu.

Berkat inovasi tersebut, Surabaya pun masuk dalam peringkat 15 besar. "Jadi wajar saja masuk (nominasi). Karena mendorong partisipasi masyarakat itu bukan sesuatu yang gampang, apalagi persoalan mengelola sampah. Dan Surabaya mampu mendorong partisipasi masyarakat itu," terang Fikser.

Yuk Vote Surabaya, Satu-satunya Wakil Indonesia di Guangzhou AwardFoto: Hilda Meilisa Rinanda/File


Namun Surabaya masih harus bersaing dengan 14 kota lainnya, di antaranya Yiwu (China), Wuhan (China), Mezitli (Turkey), Sidney (Australia), Salvador (Brazil), Kazan (Rusia), Milan (Italy), Repentigny (Kanada), New York (USA), Durban (Afrika Selatan), Santa Ana (Costa Rica), Utrecht (Belanda), Santa Fe (Argentina), dan Guadalajara (Mexico).

Ke-15 kota ini harus berkompetisi lagi dengan menambahkan aspek partisipasi masyarakat yang ditunjukkan dalam bentuk 'vote' secara online untuk memilih kota terfavorit.

"Kita baru tahu ada vote karena tidak ada surat resmi dari panitia dan ternyata sudah dibuka satu bulan yang lalu. Masing-masing negara sudah minta dukungan lewat website resmi kota mereka," ungkap Fikser.

Untuk memenuhi persyaratan ini, Risma pun mengajak warganya untuk memberikan 'vote' lewat sebuah vlog yang diunggah ke akun Instagram Surabaya pada tanggal 25 November lalu.

Yuk Vote Surabaya, Satu-satunya Wakil Indonesia di Guangzhou AwardFoto: Istimewa


Saat itu, peringkat Surabaya dalam voting masih berada pada posisi ke-9. "Tanggal 25 (Oktober, red) saat itu Surabaya urutan 9. Setelah ibu (membuat) vlog dan ada pertisipasi dari banyak pihak, ada kenaikan dari 9, 7, 5, 3, 2, 1. Dan sekarang masih terus," terang Fikser.


Pada hari Rabu (28/11) pagi, Surabaya juga sempat menduduki peringkat satu, meski harus bersaing ketat dengan Yiwwu dan Wuhan yang sama-sama berada di China. Namun di sore hari, Surabaya kembali berada di peringkat ketiga.

"Sudah masuk peringat 1 pagi ini, tapi peringkat kan bergeser, ditempel ketat dua kota dari China," lanjut Fikser.

Menurut Fikser, perubahan peringkat ini lumrah terjadi karena voting terus diberikan, termasuk oleh warga di kota-kota lain yang masuk dalam daftar finalis. Kota-kota tersebut juga mewakili negaranya seperti Surabaya yang mewakili Indonesia.


Fikser pun mengapresiasi seluruh pihak yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan voting kepada Kota Surabaya. Ditegaskan vote memang dapat diberikan tidak hanya oleh warga Surabaya saja, tetapi juga warga di kota lain di Indonesia, mengingat Surabaya menjadi satu-satunya wakil Indonesia.

"Terima kasih kepada seluruh pihak tidak hanya warga Surabaya tetapi juga luar Surabaya karena Surabaya mewakili Indonesia. Persaingan sangat ketat sekali, mereka di China juga berlomba-lomba seperti di Surabaya," jelas Fikser.

Fikser berharap vote terus diberikan kendati tidak mudah karena server yang berulang kali down. "Kesulitannya setiap kita vote kita agak susah, namun vote masih ada hingga tanggal 7 Desember," pesan Fikser.
(lll/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com