Ahli Gizi Puskesmas Kembiritan, Rina Surya Arisanty dinobatkan sebagai Juara 1 tenaga kesehatan teladan di Puskesmas Kabupaten Banyuwangi 2018, kategori tenaga gizi, ini tampak tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat menerima penghargaan tersebut.
Ahli Gizi di Puskesmas Kembiritan tersebut memberikan sumbangsih yang besar terhadap inovasi Puskesmas Kembiritan yang diberi nama Gerdu Ibu. Gerdu Ibu merupakan akronim dari Gerakan Peduli Gizi Buruk.
Kegiatan salah satunya adalah penanganan gizi buruk, yakni tindakan pencegahan seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita, dan kelas khusus untuk mengedukasi ibu bayi dan balita dengan gizi kurang. Rina mengaku, awalnya tak mudah untuk menjalankan hal ini.
"Kendalanya masih banyak ibu yang kurang kooperatif. Namun berkat pendekatan yang intensif antara pihaknya, dengan dibantu kader motivasi gizi dan asi, bidan wilayah, pihak desa dan kecamatan, akhirnya secara bertahap permasalahan tersebut bisa teratasi," tutur Rina.
Gerdu Ibu ini digagas pada akhir 2017, sejak ditemukan kasus gizi buruk di wilayah Kembiritan, Genteng. Saat pertama kali ditemukan pada 2017, terdapat 6 kasus, dan di 2018 ada 7 kasus.
Ketika ada laporan, tim Gerdu Ibu melakukan kunjungan ke rumah ibu bayi dan balita gizi buruk, setelah itu ada pertemuan kelas ibu bayi dan balita gizi buruk tersebut untuk mengedukasi mereka. Baru setelahnya dilakukan penanganan lebih lanjut untuk mengembalikan kondisi sang bayi dan balita.
Setelah adanya inovasi ini, ujar Rina, perlahan-lahan para ibu mulai paham bahaya yang ditimbulkan gizi buruk dan berusaha mengatasi semaksimal mungkin.
"Inovasi ini sangat membantu. Perkembangannya bisa kami rasakan. Memang belum zero gizi buruk, tapi jumlah bayi dan balita gizi buruk sudah jauh berkurang," kata Rina.
Selain Rina, ada pula Vina Meidhityaningrum dari Puskesmas Kebondalem yang juga dinobatkan sebagai Juara II kategori tenaga gizi. Sementara di kategori tenaga bidan ada Erliyana Permata Sari dari Puskesmas Kalibaru Kulon di peringkat I dan Sulita Hikmawati dari Puskesmas Klatak sebagai Juara II.
Tak hanya tenaga kesehatannya, penghargaan juga diberikan kepada puskesmas yang dinilai berkualitas dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan kesehatan di Banyuwangi. Puskesmas-puskesmas yang dinilai baik dalam kinerjanya yang mengedepankan pelayanan publik prima tersebut antara lain Puskesmas Sempu, Wongsorejo, Genteng Kulon, Kertosari, Grajagan, Purwoharjo, Kabat dan Tampo.
Di tingkat desa, terpilih pula desa siaga. Desa Siaga adalah desa yang meningkatkan peran serta masyarakat dan lintas sektor dalam bidang kesehatan. Desa Siaga ini terdiri dari Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo; Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng; dan Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo.
Sementara diberikan pula plakat bagi kecamatan yang dinyatakan bebas dari buang air besar sembarangan (Open Defecation Free/ODF). Plakat tersebut diberikan kepada 14 kecamatan, antara lain Kecamatan Muncar, Tegalsari, Siliragung, Pesanggaran, Sempu dan Gambiran. Juga kecamatan Singojuruh, Bangorejo, Wongsorejo, Tegaldlimo, Glagah, Purwoharjo, Srono dan Cluring.
Atas berbagai prestasi yang ditorehkan tersebut, Bupati Anas menyatakan kebanggaannya.
"Ini momentum penting bagi Banyuwangi untuk terus menggiatkan berbagai upaya percepatan pembangunan kesehatan. Semoga ke depan kinerja kita terus membaik, dan kami akan fokus di bidang kesehatan," tandasnya.
Anas berharap, semua pihak bisa terus bersinergi. "Target kami posyandu bisa lebih aktif, dan target kesehatan ibu hamil akan tercapai di 2019," pungkasnya. (fat/fat)











































