DetikNews
Rabu 21 November 2018, 18:17 WIB

Orang Tua S: Pelaku Penyerangan di Lamongan Baru Kenal Satu Bulan

Eko Sudjarwo - detikNews
Orang Tua S: Pelaku Penyerangan di Lamongan Baru Kenal Satu Bulan Kedua orang tua S, salah satu pelaku penyerangan polisi di Lamongan. (Foto: Eko Sudjarwo)
Lamongan - Kekhawatiran orang tua S, salah satu pelaku penyerangan polisi di Lamongan terjawab saat anak mereka ditahan polisi. Padahal S dan pelaku lainnya, E disebut baru kenal selama satu bulan.

Kedua orang tua S, Farikhin dan Muinah mengungkapkan E dan S bertemu ketika S kerap mengantar adik perempuannya bersekolah di wilayah Geneng, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan.

"Bertemu dan kenal dengan E ya ketika rutinitas mengantar adiknya ini," kata Farikhin kepada detikcom di kediamannya di Desa Sedayulawas, Kecamatan Brondong, Rabu (21/11/2018).


Seusai mengantar sang adik, S berangkat ke sekolah. Pemuda ini tercatat masih duduk di bangku SMK kelas 3.

Namun Farikhin mengatakan, sejak kenal dengan E, ada perubahan perilaku yang luar biasa pada pemuda yang baru berusia 18 tahun itu. Di antaranya tidak mau sekolah padahal sudah mendekati kelulusan.

Selain itu, S juga tak lagi mau berkumpul dengan teman-teman dan tetangga. Bahkan seluruh anggota keluarga dilarang menonton televisi karena dianggap memberikan pengaruh buruk.

"Anak saya juga sempat menyalahkan teman dan gurunya dianggap melenceng," ungkap Farikhin.


Farikhin menambahkan, selain tak mau sekolah, S lebih memilih berada di tempat E, bahkan jarang pulang ke rumah. Di tempat E, S mengaku kepada orangtuanya ikut mengajar mengaji.

"Saya tahunya ketika pagi biasanya menjemput adiknya tapi ternyata tidak hingga adiknya terpaksa bolos sekolah," ungkapnya.

Kecurigaan Farikhin dan Muinah pun menguat sehingga mewanti-wanti putranya agar tidak bertingkah macam-macam. Namun nyatanya pesan itu tak digubris oleh S. Hingga akhirnya S diketahui diamankan polisi karena menyerang pos lantas di Paciran, Lamongan.


Polisi juga sempat menggeledah rumah Farikhin dan membawa sejumlah buku milik anaknya. "Saya nggak paham, cuma buku buku-buku tentang bacaan tauhid," tandasnya.

Menyadari kesalahan yang dilakukan sang anak, mereka kini hanya bisa berharap adanya keringanan hukuman bagi S.

"Sampai sekarang saya belum bertemu dengan anak saya, saya juga ingin bertemu dengan anak saya," tutupnya.


Saksikan juga video 'Polisi di Lamongan Jadi Korban Penyerangan':

[Gambas:Video 20detik]


(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed