DetikNews
Jumat 16 November 2018, 09:04 WIB

Pilu Siswi SMP di Blitar yang Jadi Korban Kebiadaban Oknum Guru

Rahma Lillahi Sativa - detikNews
Pilu Siswi SMP di Blitar yang Jadi Korban Kebiadaban Oknum Guru Foto: Ilustrasi/Edi Wahyono
Surabaya - Malang bagi seorang siswa SMP Negeri di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar ini. Ia mengaku sebagai korban pelecehan seksual oleh gurunya sendiri. Tetapi deritanya tak berhenti sampai di situ.

Kisahnya diceritakan oleh sang ibu, berinisial P. Kejadian berlangsung pada tanggal 20 September 2018 silam. Saat itu korban mengantar temannya berganti baju di kamar mandi sekolah.

"Di depan kamar mandi ketemu Pak PMJ terus mereka salim. Tapi sama Pak PMJ anak saya dilarang ikut masuk nemenin teman ke kamar mandi. Dia disuruh duduk dekatnya, terus diajak masuk ke kamar mandi lainnya," ungkap P kepada detikcom, Kamis (15/11/2018).

Di dalam kamar mandi itulah, lanjut P, aksi pelecehan seksual dilakukan oleh oknum pengajar olah raga dan Bahasa Inggris tersebut. Bahkan usai melecehkan korban, teman korban yang baru keluar kamar mandi juga dipeluk dan diciumi pelaku.

"Anak saya dilarang cerita ke orang lain. Begitu juga sama temannya," imbuhnya.


Karena perlakuan tak senonoh tersebut, kedua siswa yang masih duduk di kelas X ini kemudian menceritakan apa yang mereka alami kepada sejumlah teman sekelas dan kakak kelas mereka. Satu di antara kakak kelas tersebut lalu melaporkannya kepada suami P atau ayah korban.

"Besoknya ayahnya langsung melabrak ke sekolah. Tapi kepala sekolahnya pas nggak ada. Saya mau lapor polisi juga nggak tau gimana caranya," tutur P.

Ayah korban kemudian meluapkan kemarahannya kepada sejumlah staf pengajar yang menemuinya. Persoalan ini juga telah dilaporkan kepada pihak berwajib, dengan pendampingan dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2) Pemkab Blitar.

Namun yang tak kalah mengejutkan adalah fakta yang diperoleh dari P2TP2 Pemkab Blitar. Dalam laporannya pada kepolisian, korban yang baru berusia 13 tahun itu ternyata pernah diperkosa 8 pria di kampungnya, yaitu para penambang pasir dan satu oknum kepala dusun.

Menurut pendamping P2TP2 Pemkab Blitar Yulis Hastuti, korban diperkosa beramai-ramai di bawah pengaruh minuman keras.

"Saat saya dampingi ke polisi, korban membuat pengakuan yang mengejutkan. Korban cerita pernah diperkosa delapan pria. Mereka para penambang pasir di desanya dan satu oknum kepala dusun setempat. Dia diperkosa setelah sebelumnya dicekoki minuman keras hingga hilang kesadaran," beber Yulis saat dikonfirmasi detikcom melalui sambungan telepon, Kamis (15/11/2018).

Ironisnya lagi, Yulis mengungkapkan, aksi ini dilakukan para pelaku lebih dari satu kali di beberapa lokasi.

"Perkosaan, pengakuan korban dilakukan di areal wisata Bukit Teletubis. Kemudian diulangi lagi beberapa tempat lain masih di wilayah Kecamatan Nglegok. Korban juga mengaku selalu diberi uang oleh para pelaku setelahnya," lanjutnya.

Bahkan aksi perkosaan yang melibatkan anak di bawah umur ini ternyata sudah menjadi hal yang wajar di areal penambangan pasir Kecamatan Nglegok, tepatnya di sekitar Sungai Dam Mbladak.

"Tim kami melakukan penelusuran, ternyata ada dua anak di bawah umur lainnya yang mengalami hal serupa dengan korban ini. Mereka juga siswi-siswi SMPN di Nglegok sana," tandasnya.


Polisi tengah melakukan penyelidikan terkait kasus ini. "Terkait informasi tersebut saya perintahkan Kasat Reskrim beserta unit PPA untuk melakukan penyelidikan dalam rangka pengumpulan keterangan perbuatan tersebut," ungkap Kapolresta Blitar AKBP Adewira Negara Siregar melalui pesan di WhatsApp, Kamis (15/11/2018).

Dinas Pendidikan setempat juga turun tangan untuk menuntaskan persoalan ini. "Kami langsung menerima laporan dari kepala sekolahnya siang itu juga. Lalu besoknya yang bersangkutan PMJ kami tarik ke kantor dinas. Kami stop dulu aktivitas mengajarnya sampai ada keputusan hukum inkracht," kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar Budi Kusuma secara terpisah.

Namun sejak kejadian itu, korban menolak untuk bersekolah lagi, sebab anak pertama dari dua bersaudara itu mengaku diejek beberapa teman yang mengetahui cerita itu. Bahkan tak hanya teman sekolah, sejumlah tetangga mereka juga ikut memandangnya secara negatif.
(lll/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed