Mengenakan baju khas pejuang berwarna army, suara Risma lantang memecah kesunyian di sela upacara bendera, tepat di depan Hotel Majapahit. Ditemani para pejabat utama dan Forkopimda Surabaya, wali kota perempuan ini membacakan puisi bertajuk Sajak Surabaya karya Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus.
"Surabaya... O, kota keberanian... O, kota kebanggaan... Mana sorak-sorai takbirmu yang membakar nyali kezaliman? Mana pekik merdekamu yang menggeletarkan ketidakadilan?" pekik Risma saat membaca puisi di depan Hotel Majapahit Surabaya, Jalan Tunjungan, Surabaya, Minggu (11/11/2018).
Tak pelak, puisi yang dibacakan Risma mendulang ratusan tepuk tangan dari warga Surabaya yang hadir. Rampung membaca puisi, Risma menutupnya dengan menyanyikan lagu berjudul Syukur.
Setelah itu, Risma meninggalkan Hotel Majapahit sembari mendorong kursi roda veteran menuju ke Gedung Negara Grahadi, untuk mengikuti pembacaan pidato Gubernur Suryo. Sementara pembacaan pidato Bung Tomo akan digelar di depan Monumen Bambu Runcing.
Sebelumnya, Risma membuka rangkaian Parade Juang dari Tugu Pahlawan Surabaya, di sana ada pembacaan puisi dari Sosiawan Leak. Selanjutnya parade bergeser melewati viaduk di Jalan Pahlawan, ada teatrikal pertempuran perang 10 November.
Tak selesai disitu, rombongan parade melanjutkan perjalanan ke Gedung Siola, sembari mempraktekkan teatrikal Perang Madiun dan TKR Laut.
Rombongan ini akan finish di Taman Bungkul dengan sajian pamungkas berupa teatrikal perang pahlawan nasional yang langsung dipimpin oleh Heri Lentho.
Dalam Parade Juang ini juga menampilkan berbagai arak-arakan dengan beragam kostum. Masyarakat Surabaya pun berkumpul di sini kanan dan kiri jalan untuk menilik semaraknya parade yang digelar saban tahunnya. (bdh/bdh)











































