Miris, Ada 15 Pengidap HIV/AIDS Baru di Blitar Tiap Bulannya

Miris, Ada 15 Pengidap HIV/AIDS Baru di Blitar Tiap Bulannya

Erliana Riady - detikNews
Rabu, 07 Nov 2018 11:48 WIB
Miris, Ada 15 Pengidap HIV/AIDS Baru di Blitar Tiap Bulannya
Foto: reza
Blitar - Miris, tercatat ada 15 pengidap HIV/AIDS baru yang terdeteksi setiap bulan di Kabupaten Blitar. Lebih memprihatinkan lagi, usia produktif mendominasi warga yang terinfeksi Human Immunodeficiecy Virus (HIV) ini.

Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar mencatat para penderita baru ini memiliki rentang usia antara 35 sampai 45 tahun. Latar belakang mereka juga beragam, mulai dari kalangan pekerja, ibu rumah tangga hingga balita.

"Dari 15 pasien baru yang terdeteksi HIV/Aids itu ada juga yang ibu rumah tangga dan balita. Yang ibu rumah tangga, ini terpapar kebiasaan seks bebas dari pasangannya. Sedangkan yang balita, terpapar dari ibunya sejak di dalam kandungan," kata Kepala Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Krisna Yekti kepada detikcom, Rabu (7/11/2018).


Namun menurut Krisna, jumlah 15 pasien itu baru sebatas angka yang melapor ke petugas kesehatan. Tidak menutup kemungkinan masih banyak penderita HIV/AIDS baru yang tidak atau belum melapor, bahkan cenderung menutup diri sehingga tidak terhitung.

Angka ini juga menambah jumlah penderita HIV/AIDS yang ada di Kabupaten Blitar. Terdata sejak tahun 2005 hingga 2018 ini, jumlah penderita HIV/AIDS mencapai 1.332 orang. Dari jumlah tersebut, 361 di antaranya telah meninggal dunia.

"Dari jumlah tersebut, 612 HIV, sedangkan 710 AIDS," ungkap Krisna.

Krisna mengaku Dinas Kesehatan telah melakukan upaya preventif untuk mengeliminasi angka ini. Sosialisasi kerap dilakukan di kalangan masyarakat yang rentan dan berpotensi tinggi tertular HIV.

"Kami rutin sosialisasi di komunitas remaja yang mengalami pergeseran orientasi seksual, para pekerja seks komersial. Tapi penutupan lokalisasi membuat kami sulit monitoring penyebarannya," aku Krisna.


Tak bisa dipungkiri penutupan lokalisasi justru membuat praktik prostitusi terselubung semakin susah terdeteksi. Hal ini juga diakui Blitar Care, lembaga swadaya masyarakat yang peduli HIV/AIDS di kawasan Blitar Raya.

"Kalau dulu masih ada lokalisasi, kami bisa kontrol ada penghuni baru atau tidak. Ada penghuni yang terinfeksi HIV/AIDS yang keluar apa tidak. Kalau keluar, lokasinya dimana sekarang. Tapi begitu lokalisasi ditutup, para PSK ini praktiknya menyebar. Kami tidak bisa mengontrol dan memantau lagi potensi penularan dimana dan bagaimana proses pengobatan mereka," tutur Ketua Blitar Care, dr Christine Indawaty, secara terpisah.

Melihat tingginya angka penularan HIV/AIDS di Blitar ini, Christine pun meminta semua pemangku jabatan lebih peduli dengan kondisi yang ada sekarang sebab ada komunitas yang berpotensi tinggi sebagai subyek penularan virus ini dan sikapnya sangat tertutup.

"Komunitas ini ada di Blitar dan mereka sebenarnya sangat butuh pendampingan. Hanya saja, ada yang sangat tertutup menerima pihak luar tapi ada juga yang terbuka. Nah ini sangat dibutuhkan kepekaan tidak hanya Dinas Kesehatan, tapi juga Dinas Sosial, Dinas Tenaga Kerja untuk lebih sabar dan telaten menghadapi mereka," pungkasnya.


Simak Juga 'Virus HIV Bisa Dihambat Sama Obat ARV':

[Gambas:Video 20detik]


(lll/lll)
Berita Terkait