DetikNews
Rabu 24 Oktober 2018, 07:19 WIB

Menengok Perjuangan Soiran, Guru Penyandang Tunanetra di Ponorogo

Charolin Pebrianti - detikNews
Menengok Perjuangan Soiran, Guru Penyandang Tunanetra di Ponorogo Soiran, guru tunanetra dengan semangat mengajar yang luar biasa. (Foto: Charolin Pebrianti)
Ponorogo - Semangat Soiran untuk mengajar begitu luar biasa. Ia pun tak membiarkan kondisi kebutaan yang dialaminya menghalangi semangat tersebut.

Setiap hari, warga Desa Baosan Kidul, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo ini berjalan menuju sekolah tempatnya mengajar, sebuah MTs yang berjarak 1,5 km dari rumahnya. Ia hanya ditemani tongkat setianya melewati jalanan berbatu dan naik turun tersebut.

"Saya berangkat dari rumah lebih awal. Pukul 06.00 saya sudah berangkat soalnya sebelum masuk sekolah saya mengajar anak-anak untuk mengaji," tutur Soiran saat berbincang dengan detikcom, Rabu (24/10/2018).


Kadangkala pria berusia 38 tahun ini mendapatkan tumpangan dari siswa atau tetangganya hingga tiba di sekolah. Aktivitas ini telah ditelateni oleh Soiran selama 9 tahun terakhir.

Soiran tidak hanya bisa mengajar satu mata pelajaran saja. Alumni STAIN Ponorogo ini menguasai sejumlah mata pelajaran seperti Bahasa Arab, fiqih, tajwid, akidah akhlak hingga Al Quran Hadits.

Sorenya, ia mengajarkan cara membaca Al Quran kepada anak-anak di kampungnya. "Anak-anak itu saya target kelas 6 SD harus sudah pandai Al Quran, jadi sejak taman kanak-kanak sudah saya ajari untuk belajar membaca Al Quran," terangnya.

Siapa sangka, dari yang awalnya hanya mengajari anak-anak, para ibu pun melirik kegiatan positif Soiran dan memintanya untuk mengajari mereka mengaji juga. Kegiatan ini baru dimulai pada bulan Ramadan lalu.

"Saya menerima 12 orang, ini saya ajari dulu. Kalau sudah bisa baru saya buka pendaftaran lagi. Kemarin banyak yang mau daftar tapi saya stop dulu. Tapi kalau anak-anak saya jadwal Sabtu-Rabu, kalau ibu-ibu Kamis dan Jumat saja," jelasnya.


Mengenal Soiran, Guru Penyandang Tunanetra di PonorogoFoto: Charolin Pebrianti

Tak hanya itu, di tahun 2009, Soiran berinisiatif untuk mendirikan sebuah madrasah diniyah, meskipun dengan keadaan kelas yang seadanya. "Saya ingin mereka tidak hanya belajar mengaji tetapi juga belajar agama, bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang halal dan haram," paparnya.

Di sela perbincangan, Soiran pun menyelipkan kisah tentang kebutaan yang dialaminya. Sulung dari dua bersaudara ini mengaku tidak buta sejak lahir.

Saat menginjak kelas 3 SD, mata kanannya mengeluarkan air dan tiba-tiba saja ia tidak bisa melihat. Mata kirinya pun mengalami kejadian serupa di tahun 2012 dan berakhir dengan kebutaan.

"Sudah diperiksakan kemana-mana katanya syarafnya yang rusak dan tidak bisa diobati," ungkapnya.


Bukannya bersedih, ia mengaku bersyukur karena dengan keterbatasannya ini, ia justru terhindar dari perbuatan buruk.

"Ini jangan dijadikan beban, saya anggap ringan saja. Memang musibah, tapi tidak boleh menghalangi aktivitas kita. Asal saya bermanfaat untuk orang sekitar saya sudah bersyukur," tegasnya.

Ia juga menyelipkan harapan kepada pemerintah agar lebih memperhatikan nasib ruang kelas madrasah diniyah yang didirikannya.

"Saya ingin agar tempatnya lebih layak agar anak-anak bisa nyaman belajarnya, meski tempatnya di tengah hutan seperti ini. Sekaligus saya ingin ada teman untuk mengajar," harapnya.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed