DetikNews
Selasa 23 Oktober 2018, 14:48 WIB

Intip Keseruan Belasan Siswa SLB di Ponorogo Belajar Bikin Kue

Charolin Pebrianti - detikNews
Intip Keseruan Belasan Siswa SLB di Ponorogo Belajar Bikin Kue Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Amad (17) terlihat sibuk membuat kue sembari sesekali melihat ke arah gurunya. Ketekunan pun terpancar dari wajahnya.

Mungkin tak ada yang menyangka jika Amad adalah seorang siswa SLB Negeri Jenangan, Jalan Niken Gandini, Ponorogo. Hari ini ia berkesempatan untuk mendapatkan pelajaran keterampilan membuat kue secara langsung di sebuah toko kue di Jalan Parang Ukel, Kota Ponorogo.

Tak hanya kue cokelat, remaja tunarungu ini juga diajari membuat cokelat bersama sejumlah rekannya di toko tersebut.

Meski terkadang mereka mengalami kendala dalam memahami materi, nyatanya hal itu tak menyurutkan langkah mereka untuk membuat kue sebaik mungkin.


"Ini tadi ada siswa tunagrahita, tunadaksa dan tunarungu. Yang tunarungu ini harus pakai bahasa isyarat. Kalau tunagrahita tadi dia pemahamannya di bawah rata-rata jadi harus pelan-pelan mengajarinya," terang salah satu guru pendamping, Tina Kristiana kepada wartawan, Selasa (23/10/2018).

Tina juga menjelaskan kegiatan seperti ini penting bagi anak-anak berkebutuhan khusus seperti Amad. Sebab usai masa sekolah terlewati, mereka juga bakal dihadapkan pada dunia kerja.

"Kegiatan keterampilan ini bisa dimanfaatkan para siswa nanti untuk membuka usaha sendiri," tuturnya.

Intip Keseruan Belasan Siswa SLB di Ponorogo Belajar Bikin KueFoto: Charolin Pebrianti

Menurutnya, anak penyandang disabilitas memang perlu dibekali dengan keterampilan khusus agar nantinya bisa membuka lapangan usaha sendiri tanpa perlu mencari pekerjaan. Sebab berbeda anak normal yang memiliki kemampuan memahami materi dengan baik, anak difabel mereka cenderung belajar dengan cara praktik secara langsung.

"Seperti kegiatan membuat kue seperti ini bisa mengasah keterampilan mereka," ujarnya.


Sementara itu, pemilik toko kue sekaligus tempat pelatihan Emi Atikah mengaku mengajar para siswa difabel memberikan pengalaman tersendiri baginya. Meski terkendala komunikasi, Emi kagum dengan kegigihan anak-anak ini.

"Mereka ada lebih teliti dan rapi. Maunya sempurna seperti yang dicontohkan," ungkapnya.

Emi pun berharap dapat menjalin kerjasama dengan mereka jika kelak telah menyelesaikan pendidikannya.

"Selain membuat kue, anak-anak juga kami ajak melukis di caping sebagai penutup. Biar mereka senang dan pulang bawa oleh-oleh untuk keluarga di rumah," pungkasnya.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed