Data dari Dinas Kesehatan Ponorogo, kasus DBD paling banyak di wilayah Puskesmas Babadan yang mencapai 53 kasus. Paling baru wilayah Puskesmas Siman selama sebulan terakhir ada 15 orang terserang penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Aedes Aegypti.
Kasi Pemberantasan Penyakit Dinkes Ponorogo Edi Kusnanto pun melakukan langkah preventif yakni dengan merekrut 'jumantik' yang merupakan juru pemantau jentik.
"Nantinya 1 rumah ada 1 jumantik, Insya Allah November kami adakan sosialisasi terkait hal ini," tuturnya kepada wartawan saat ditemui di kantornya, Jalan Basuki Rahmad, Selasa (21/10/2018).
Edi menjelaskan nantinya dengan adanya 1 jumantik di tiap rumah, bertanggung jawab terhadap pembasmian sarang nyamuk. Pasalnya, selama ini masyarakat hanya terdoktrin, jika ada warga yang terkena DBD langsung dilakukan fogging dan aman. Sayangnya, pengertian tersebut salah.
"Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan larva, sedangkan telur dan jentik tidak bisa," terang dia.
Cara yang paling efektif, lanjut Edi, untuk mencegah penyebaran DBD adalah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang meliputi 3M. Yakni menguras bak mandi, menutup rapat tempat penampungan air, serta mengubur barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
"Tugas jumantik nanti melakukan PSN seminggu sekali," jelasnya.
Edi pun mewanti-wanti di musim kemarau saat ini perkembangan nyamuk lebih banyak. Sebab, banyaknya bak penampung air yang biasanya tidak ditutup atau tidak dijaga kebersihannya oleh warga.
"Karena musim kemarau banyak warga punya penampungan air, itu yang harus dijaga," tegasnya.
Selain itu, banyaknya penderita DBD di lingkungan tertentu bukan berarti di lingkungan tersebut tidak bersih. Mobilitas masyarakat pun juga bisa jadi faktor. "Kadang kan masyarakat habis dari luar kota atau luar daerah itu juga bisa jadi penyebab, meski lingkungannya bersih tapi kita kan tidak tau dia habis dari mana," tandasnya.
Sementara Kepala Dinkes Ponorogo Rahayu Kusdarini menambahkan masyarakat harus turut berperan aktif dalam memberantas jentik nyamuk di lingkungan tempat tinggalnya.
Selain itu, jika ada laporan warga terjangkit DBD biasanya petugas dari Puskesmas melakukan pemeriksaan epidomologi. Mulai dari mengecek adakah jentik nyamuk, 20 rumah sekitar tempat tinggal penderita juga diperiksa.
"Kalau memang dibutuhkan tentu kami kirim fogging untuk warga, tapi peran aktif masyarakat yang penting untuk menjaga kebersihan lingkungan," pungkasnya. (fat/fat)











































