DetikNews
Senin 22 Oktober 2018, 12:57 WIB

Beda, Upacara Hari Santri di Probolinggo Gunakan 3 Bahasa

M Rofiq - detikNews
Beda, Upacara Hari Santri di Probolinggo Gunakan 3 Bahasa Para santri di Probolinggo menggelar upacara Hari Santri Nasional dalam tiga bahasa. (Foto: M Rofiq)
Probolinggo - Ribuan santri dan santriwati Pondok Pesantren Riyadlus Sholihin, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo memperingati Hari Santri Nasional dengan menggelar upacara.

Dalam upacara ini, para santri tidak hanya mengenakan sarung dan baju koko tetapi juga gamis ala Timur Tengah. Bahkan tak hanya pesertanya, tetapi juga petugas upacara dan tamu undangan diwajibkan mengenakan kostum ala santri tersebut.

Namun ada yang menarik dalam pelaksanaan upacara ini. Petugas upacara menggunakan tiga bahasa dalam upacara, yaitu perpaduan antara bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia.


Seperti terlihat dalam pembacaan proklamasi kemerdekaan yang menggunakan bahasa Inggris.

"Proclamation, we Indonesians hereby declare Indonesia's independence. The matters concerning the transfer of authority are held with careful methods, and in the shortest period," ujar petugas yang diikuti oleh peserta secara bersama-sama.

Setelah bahasa Inggris, petugas kemudian melanjutkan pembacaan proklamasi dalam bahasa Arab.

"I'lan, nahnu al'indunisiyun bimuwajab hadzha nu'lin istiqlal 'indunisia. Yatama 'aqd al'umur almuta'aliqat binaql alsultat ma'a asalib hadhrat wafi aqsar fatratin," baca petugas yang juga diikuti oleh seluruh peserta upacara.

Di akhir, petugas dan para santri menutupnya dengan membacakan teks proklamasi menggunakan bahasa Indonesia seperti pada umumnya.

Selain pembacaan undang-undang dan pancasila, di upacara hari santri juga dibacakan ikrar jihad, resolusi jihad dan ikrar santri yang konon sudah ada sejak jaman ulama-ulama terdahulu berjuang membela tanah air.

Penggunaan tiga bahasa dalam upacara peringatan Hari Santri Nasional di ponpes ini sudah dilakukan sejak tahun 2017 yang lalu.


Pengasuh pondok pesantren Riyadlus Sholihin, Habib Hadi Zainal Abidin mengatakan, penggunaan tiga bahasa dalam upacara peringatan Hari Santri Nasional adalah untuk membuktikan bahwa santri juga mampu bersaing di dunia pendidikan, dalam membangun bangsa dan negara.

Habib Hadi pun berharap, poin terpenting atas keluarnya RUU Pesantren maka keberadaan pondok pesantren dan Madrasah Diniyah juga akan diakui.

"Kami ingin pemerintah bisa turut andil membangun generasi muda, khususnya di bidang keagamaan. Kita tahu selama ini dunia pendidikan keagamaan yakni Madrasah Diniyah berjuang secara mandiri," ungkapnya, Senin (22/10/2018).
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed