Ditolak Ormas Islam, Festival Gandrung Sewu 2018 Tetap Digelar

Ardian Fanani - detikNews
Kamis, 18 Okt 2018 13:24 WIB
Foto: Dok Kemenpar
Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi memastikan tetap menggelar festival gandrung sewu 2018 meski mendapat penolakan dari Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Front Pembela Islam (FPI) Banyuwangi. Pemkab beralasan tari gandrung merupakan warisan seni dan budaya asli Banyuwangi yang saat ini sudah diakui dunia.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi Muhammad Yanuar Bramuda membantah bahwa Festival Gandrung Sewu yang melibatkan 1300 lebih penari gandrung itu adalah pertunjukan yang mengundang maksiat.

Bahkan tari gandrung ini telah resmi digunakan tarian ucapan selamat datang setiap ada kegiatan di Banyuwangi. Sehingga Festival Gandrung Sewu ini murni pertunjukan seni dan budaya yang setiap tahunya di laksanakan di Kabupaten Banyuwangi.


"Kita tidak bisa merubah itu, karena itu asalnya ada. Gandrung sewu adalah bahasa bagaimana mengenalkan gandrung lebih elegan ke dunia Internasional. Jadi gandrung yang sewu ini adalah murni tontonan, seni, dan penampilan. Makanya tidak ada unsur sebagaimana yang diisyaratkan oleh pakem-pakemnya gandrung di dalam budaya itu sendiri. Gandrung itu kan ada macam-macam, ada gandrung terop, ada seblang subuh macam- macam itu," kata Muhammad Yanuar Bramuda kepada detikcom, Senin (15/10/2018).

Bramuda tetap menghargai adanya kritik berupa penolakan pelaksanaan Gandrung Sewu 2018. Namun diharapkan penolakan tersebut tetap tidak menghalangi terselenggaranya pagelaran gandrung sewu 2018 tersebut.


"Kami saling menghormati saja. Karena memang tidak ada kemaksiatan dalam Gandrung Sewu ini," pungkasnya.

Kegiatan Festival Gandrung Sewu sedianya digelar di Pantai Boom Banyuwangi, Sabtu (20/10/2018). Kegiatan ini sudah digelar 7 kali di tempat yang sama. Sebanyak 1300 penari akan menarikan Gandrung, tarian khas Banyuwangi. (iwd/iwd)