DetikNews
Rabu 17 Oktober 2018, 08:52 WIB

Cerita Maxi Kembangkan Aplikasi Curhat untuk Generasi Galau

Intan Puspita Asri - detikNews
Cerita Maxi Kembangkan Aplikasi Curhat untuk Generasi Galau Foto: Intan Puspita Asri
Surabaya - Masa remaja diakui sebagai masa yang sulit. Wajar bila kemudian banyak remaja mengalami stres saat menghadapinya. Namun sebenarnya mereka hanya butuh dukungan dan tempat untuk bercerita.

Inilah yang coba difasilitasi oleh Audrey Maximillian Heri dengan membuat aplikasi bernama Riliv. Kala itu ia mengaku resah melihat banyak orang membuat status galau di media sosialnya.

"Saya bikin Riliv ini waktu semester akhir, waktu kuliah. Terus main sosial media main Facebook, Twitter, banyak orang nulis status galau. Lah ini kenapa kok banyak orang yang punya banyak masalah tapi di sosial media. Bukannya masalahnya tambah selesai malah di-bully. Nah dari itu kenapa kita nggak bikin platform yang orang bisa langsung ngobrol di situ dan bisa menyelesaikan masalahnya," tutur Maxi saat berbincang dengan detikcom, Rabu (17/10/2018).

Maxi mengaku tak punya latar belakang pendidikan di bidang kesehatan. Ia sendiri adalah alumni jurusan Sistem Informasi Universitas Airlangga. Namun ia berupaya memberikan bantuan dengan kemampuan yang dimilikinya.

Dengan menggandeng kedua rekannya, Audy Christopher Herli dari Teknik Industri Universitas Brawijaya Malang dan Fachrian Anugerah dari Sistem Informasi Universitas Airlangga, Riliv pun berhasil diluncurkan pada tahun 2015 silam.


Kebetulan saat itu pemuda berusia 26 tahun ini baru saja mengikuti program Startup Surabaya, tepatnya pada bulan Mei 2015. Ternyata dari program itu, tim Riliv berhak mendapatkan kesempatan mentorship dari Google Jepang pada bulan Agustus 2015.

Dengan bangga, Maxi pun menyebut Riliv sebagai aplikasi konseling psikologi pertama di Indonesia. "Ya, Riliv merupakan aplikasi konseling psikologi pertama di Indonesia," ujarnya.

Cerita Maxi Kembangkan Aplikasi Curhat untuk Generasi GalauMaxi dan Wali Kota Risma. (Foto: Instagram)

Maxi kemudian menjelaskan bahwa pengguna Riliv dapat 'curhat' atau berkonsultasi langsung kepada psikolog. Entah itu masalah percintaan, keluarga, sosial, pendidikan atau karier.

Riliv sendiri terhubung dengan ratusan psikolog. Untuk saat ini mereka juga telah bekerjasama dengan Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) Jawa Timur.

"Di Riliv ada sekitar 300 orang yang berlatar belakang psikologi, ada sarjana psikologi, ada psikolog profesional. Psikolog profesionalnya juga dijamin memiliki surat izin praktik," tutur Maxi.

Meski aplikasi ini dapat diunduh secara cuma-cuma, namun untuk konsultasi pengguna masih harus membayar.


Maxi mengungkapkan ada beberapa fitur menarik lainnya yang dimiliki Riliv. Yang baru-baru ini diluncurkan adalah Hening (http://riliv.co/hening.html), fitur meditasi yang saat ini sebenarnya masih berupa beta tester.

"Kita membuat fitur meditasi itu bukan hanya sekedar fitur. Karena kita bisa menyediakan langkah yang kuratif dan preventif. Ini juga bisa digunakan untuk sehari-hari," terang Maxi.

Saat ini pengguna Riliv sudah hampir mencapai 100 ribu orang. Namun Maxi masih belum berpuas diri.

"Senang juga, berarti banyak orang di luar sana sebenernya membutuhkan tempat untuk menyampaikan masalahnya. Angka tersebut sebenarnya masih jauh, dan kita masih ingin jutaan orang di indonesia dan negara tetangga bisa mengakses Riliv ini," harapnya.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed