DetikNews
Selasa 16 Oktober 2018, 19:15 WIB

Air Sumur Tercemar BBM, Biaya Hidup Warga Membengkak

Enggran Eko Budianto - detikNews
Air Sumur Tercemar BBM, Biaya Hidup Warga Membengkak Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Akibat tercemar bahan bakar minyak (BBM), air sumur warga Dusun Panjer, Desa Tunggalpager, Pungging, Mojokerto tak bisa digunakan untuk mandi, mencuci, maupun minum. Kondisi ini dikeluhkan warga lantaran biaya hidup mereka membengkak hingga Rp 600 ribu tiap bulannya.

Seperti yang dirasakan Isti Mersiawan (45). Sejak sekitar 6 bulan yang lalu, ibu dua anak ini terpaksa beralih menggunakan air PDAM untuk kebutuhan mandi dan mencuci.

Sementara untuk minum dan memasak, dia terpaksa membeli air minum kemasan. Di rumah ini, Isti tinggal bersama suami, 2 anak dan saudaranya.

Tak pelak biaya hidup keluarga Isti membengkak hingga Rp 600 ribu tiap bulannya untuk memenuhi kebutuhan air. Pasalnya, selama puluhan tahun tinggal di rumah tersebut, penjual sembako ini mengandalkan air sumur di belakang rumahnya untuk mandi, mencuci, dan minum.

"Tagihan PDAM sebulan Rp 125-130 ribu. Kalau air minum sehari habis satu galon, harganya Rp 16 ribu per galonnya," kata Isti kepada detikcom di rumahnya, Selasa (16/10/2018).


Tak hanya itu, lanjut Isti, suplai air PDAM yang tak selalu lancar juga menjadi masalah tersendiri bagi keluarganya. Jika pasokan air dari perusahaan pelat merah itu mampet, dia terpaksa menggunakan air isi ulang untuk mandi.

"Kalau air PDAM lagi mampet ya saya beli air isi ulang untuk mandi yang harganya Rp 4 ribu satu galon," ungkapnya.

Hal ini dilakukan Isti setelah air sumur di belakang rumahnya tercemar BBM sejak sekitar 6 bulan yang lalu. Sumur dengan kedalaman sekitar 13 meter itu tak lagi layak digunakan untuk mandi, mencuci, minum maupun untuk memasak.

"Sebelumnya buat mandi, cuci dan minum, tidak bau, warnanya jernih, rasanya segar," ujarnya.

Begitu juga yang dirasakan Khoirudin (35), keponakan Isti yang rumahnya hanya berjarak 5 meter. Bahkan permukaan air sumur miliknya tertutup dengan minyak. Warna dan bau minyak tersebut mirip dengan BBM jenis Pertalite.


Sebelumnya, air sumur di rumah bapak dua anak ini jernih, tak berasa maupun berbau.

"Sejak baunya berubah mirip Pertalite, saya tak berani gunakan untuk minum," jelasnya.

Akibatnya, Khoirudin memilih beralih menggunakan air PDAM untuk mandi dan mencuci. Sementara untuk minum dan memasak, dia terpaksa membeli air minum kemasan.

"Karena kalau direbus, warnanya tetap jernih, tapi baunya tetap seperti Pertalite," tandasnya.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed