detikNews
Kamis 11 Oktober 2018, 08:37 WIB

Ilmu yang Disalahgunakan di Balik Kasus Jual Bayi di Surabaya

Rahma Lillahi Sativa - detikNews
Ilmu yang Disalahgunakan di Balik Kasus Jual Bayi di Surabaya Foto: Hilda Meilisa Rinanda/File
Surabaya - Fakta mencengangkan digali dari pelaku perdagangan bayi via media sosial yang belakangan marak di Surabaya. Sang pelaku utama, Alton Phinandita (29) merupakan lulusan program studi (prodi) pendidikan kesejahteraan keluarga.

Dengan berbekal ilmu yang dimilikinya, Alton membuat akun Instagram yang awalnya memberikan konsultasi terkait permasalahan rumah tangga. Ia juga mahir memberikan solusi bagi pasutri yang ingin punya anak, anak-anak muda yang hamil di luar nikah atau orang tua yang tidak mampu menghidupi anaknya. Orang-orang ini kemudian 'diseret' ke dalam skema perdagangan anak.


Kanit Jatanras Polrestabes Surabaya AKP Agung Widoyoko menambahkan Alton juga pernah bekerja di bidang sosial, sehingga kemampuannya makin terasah.

"Dulunya dia kuliah di kesejahteraan keluarga. Lalu kerja di bidang sosial. Lalu punya niatan mau buka konsultasi itu, lewat instagram. Tapi ilegal. Alasannya agar tidak ada lagi ibu-ibu yang menggugurkan bayinya. Mau dibantu dicarikan orang tua asuhnya," kata Agung saat dikonfirmasi detikcom di Surabaya, Rabu (10/10/2018).

Ditambahkan Agung, Alton tahu jika aksinya ini ilegal, namun ia berdalih ingin membantu ibu dari bayi-bayi yang tak diinginkan atau orang tua yang sangat ingin memiliki keturunan.

"Dia tahu kalau ini salah. Tapi dia mikirnya tujuan untuk membantu ibu bayi supaya tidak stres dan menggugurkan bayinya. Padahal kalau adopsi harus pakai jalur pengadilan. Tidak segampang ini," kata Agung.


Polisi juga menyebut masih ada satu pelaku lain yang belum ditemukan, yaitu yang berperan sebagai perantara dari bayi yang belum ditemukan. Polisi meralat bahwa selama tiga bulan beroperasi, pelaku tidak menjual empat bayi melainkan dua bayi saja. Satu bayi sudah diamankan namun satu bayi lagi masih belum diketahui keberadaannya. Perantara bayi kedua inilah yang masih diburu.

Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran mengatakan perantara dan pembeli pada kasus yang telah dirilis, berbeda orang dengan kasus bayi lainnya.

"Perantaranya itu Alton Phinandita, itu tapi pembelinya beda bukan itu. Kami masih melakukan pengembangan. Yang sudah ada pengakuan satu lagi dan masih kami dalami lagi," imbuhnya.

Untuk saat ini, pihaknya juga masih melacak siapa saja yang menjadi korban Alton. "Kalau Alton sudah dua kali pengakuannya cuman kami masih mencari bukti-bukti tambahannya," tandas Sudamiran.


Kapolrestabes Surabaya, Kombes Rudi Setiawan menambahkan, pelaku memadukan dua motif yang berpotensi tinggi untuk berkembang menjadi skema kejahatan yang jauh lebih besar.

"Kami analisa peristiwa ini potensial sekali. Kenapa kami melihat seperti itu. Kami melihat si pelaku utama (Alton) yang menyiapkan media sosial itu, memadukan dua kebutuhan. Satu sisi orang yang membutuhkan orang yang mempunyai masalah terhadap pengurusan anak di luar nikah. Ini menjadi masalah baik secara legal maupun pembiayaannya. Kemudian melihat orang yang belum memiliki keturunan," ujarnya.

Apalagi Alton diketahui mematok tarif dalam jasa konsultasi maupun menghubungkan antara pembeli dan penjual bayi. Untuk setiap bayi yang diserahkan kepada adopter, Alton mematok harga Rp 22,5juta. Uang ini dia bagi tiga, Rp 15 juta untuk ibu bayi, Rp 5 juta untuk perantara, dan sisanya Rp 2,5 juta untuknya.


Polisi juga terus melakukan pengembangan untuk mengetahui apakah ada motif lain selain jual beli.

"Kalau kami melihat dua kebutuhan tadi. Potensinya banyak. Apakah faktor kebutuhan ekonomi. Ada yang kebutuhan dengan organ tubuh. Bisa saja ada orang yang konsultasi tentang kebutuhan organ tubuh. Potesi itu bisa saja terjadi. Saat ini kami terus melakukan penyelidikan termasuk dijual ke orang asing," tandas Rudi.

Diberitakan sebelumnya, praktik jual beli anak via media sosial terbongkar di Surabaya. Pelaku menggunakan kedok yayasan peduli anak dan memiliki akun Instagram yang dapat dihubungi untuk memberikan konsultasi terkait masalah rumah tangga.

Dari akun itulah, pelaku mempertemukan penjual dan pembeli. Penjual dan pembeli juga ditetapkan sebagai tersangka karena terlibat dalam skema perdagangan anak ini.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com