Meski Kasus DBD Turun Drastis, Trenggalek Tetap Waspada

Meski Kasus DBD Turun Drastis, Trenggalek Tetap Waspada

Adhar Muttaqin - detikNews
Rabu, 10 Okt 2018 11:59 WIB
Meski Kasus DBD Turun Drastis, Trenggalek Tetap Waspada
Foto: Adhar Muttaqin
Trenggalek - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Trenggalek tahun ini menurun tajam dibanding tahun-tahun sebelumya. Dari sebelumya yang mencapai 1.159 kasus terjun bebas hingga 154 kasus.

Data di Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkesdalduk KB) Trengalek, kasus DBD tahun 2016 tercatat sebanyak 1.159 kejadian dengan sebaran paling banyak di wilayah Puskesmas Kecamatan Munjungan yang mencapai 252 kasus dan Puskesmas Pule 145 kasus. Sedangkan tahun 2017 turun drastis menjadi 362 kasus, dengan kejadian terbanyak di wilayah Puskesmas Kecamatan Suruh 98 kasus.

Kepala Dinkesdalduk KB Trenggalek Sugito Teguh mengatakan tahun ini angka serangan DBD terus mengalami penurunan, mulai Januari hingga akhir September 2018 tercatat hanya 154 kasus, angka serangan tertinggi tahun ini berada di wilayah Puskesmas Kecamatan Suruh 25 kasus dan Puskesmas Kecamatan Pule 24 kasus.

"Sehingga kondisi tahun ini sangat aman dan jauh lebih rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun demikian kita semua harus tetap waspada," kata Sugito saat ditemui usai mengikuti rapat paripurna di DPRD Trenggalek.


Angka penurunan kasus DBD tahun ini cukup dipengaruhi oleh kemarau yang berkepanjangan, sehingga genangan-genangan air jernih yang biasanya digunakan untuk perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti cukup minim. Selain itu juga dipengaruhi oleh pola hidup bersih masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Sugito mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di saat musim peralihan antara kemarau dan penghujan seperti sekarang ini. Karena potensi genangan air sangat tinggi. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) menjadi salah satu andalan bersama yang dihadapkan menjadi ujung tombak untuk menekan penyebaran DBD.

Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan melakukan gerakan 3M plus yakni menguras, mengubur, menutup barang-barang yang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk, plus memakai obat anti nyamuk. Pihaknya optimis apabila tingkat kesadaran masyarakat tinggi angka serangan DBD dapat ditekan semaksimal mungkin.

"Kami juga menyiapkan Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di masing-masing desa, tugas mereka untuk melakukan kondisi wilayahnya. Serta Pramantik atau Pramuka Pemantau Jentik yang ada di sekolah," ujar Sugito.


Sugito memastikan petugas kesehatan juga telah siap melakukan pengasapan atau fogging apabila ditemukan kasus DBD. Selain itu stok abate di masing-masing Puskesmas juga masih menukupi.

"Kalau untuk fogging itu untuk memutus mata rantai penularan dan ditujukan untuk nyamuk dewasa yang sudah terbang, kalau yang paling penting untuk pencegahan adalah PSN," ujarnya.

Disebutkan, endemis demam berdarah tersebar hampir di seluruh kecamatan di wilayah Trenggalek, di wilayah perkotaan kawasan yang rentan menjadi penyebaran DBD adalah Durenan, Trenggalek, Pogalan dan Tugu. Sedangkan dari data di Dinkesdalduk kawasan pegunungan yang rawan berada di Keamatan Munjungan, Pule, dan Suruh. (iwd/iwd)
Berita Terkait