Legit dan Beda, Inovasi Tape Ubi Ungu dari Bondowoso

Chuk S Widarsha - detikNews
Rabu, 10 Okt 2018 07:04 WIB
Dalam sehari, Sumiyati dapat memproduksi tape dari 6 kuintal ubi jalar ungu. (Foto: Chuk S Widarsha)
Bondowoso - Kabupaten Bondowoso memang identik dengan tape yang menjadi jajanan khasnya. Seperti tape pada umumnya, Tape Bondowoso juga terbuat dari singkong. Namun pernahkah Anda merasakan tape yang dibuat dari ubi jalar ungu?

Tape ubi ungu memiliki rasa seperti lazimnya tape. Lembut di lidah, manis, legit, punel di bibir. Hanya saja, tape yang dibuat dari ubi jalar ini tampilannya lebih menarik.

Menurut pembuatnya, Sumiyati (43), ia sengaja memilih ubi ungu karena warnanya. Warga Desa Petung, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso ini mengaku menemukan inovasi tape ubi ungu baru setahun lalu.

Ibu dua anak ini memang sudah bergelut dengan olahan ubi jalar selama bertahun-tahun. Hanya saja, saat itu olahannya masih konvensional seperti ubi jalar dijadikan bahan baku olahan penganan biasa ataupun tepung.


"Saya lalu berpikir bagaimana agar ubi jalar ini memiliki cita rasa yang baru. Setelah memutar otak, muncullah ide membuat tape dari ubi ungu ini," tutur Sumaryati kepada detikcom, Rabu (10/10/2018).

Dijelaskan Sumiyati, proses pembuatan tape ubi ungu tak jauh berbeda dengan cara membuat tape berbahan singkong. Ubi atau singkong dikupas, terus dicuci bersih lalu dikukus. Setelah matang, ubi kemudian ditiriskan di atas meja atau tampah bambu hingga dingin.

Legit dan Beda, Inovasi Tape Ubi Ungu dari BondowosoSumiyati mempekerjakan sekitar 25 orang yang merupakan warga di sekitar rumahnya. (Foto: Chuk S Widarsha)

Setelah dingin, ubi kemudian dibaluri ragi hingga merata. Sebagai langkah terakhir, ubi itu lalu dimasukkan ke dalam besek atau anyaman bambu yang telah dilapisi daun pisang, lalu ditutup rapat. Setelah didiamkan selama tiga hari, jadilah tape.

Sumiyati mengatakan, dari inovasi cita rasa itu, ia kini mulai keteteran dalam memenuhi permintaan pasar. Sebab saat ini ia harus memproduksi setidaknya 1.300 besek tape dari sekitar 6 kuintal ubi perhari. Namun stok sebanyak itu selalu habis.


Peminatnya pun tak hanya berasal dari Bondowoso tetapi hingga ke Bali, Malang, Surabaya, Jakarta, Bandung bahkan Batam. Tak jarang ada permintaan dari negeri jiran, Malaysia.

"Produksinya tiap hari. Kami hanya libur hari Jumat. Karena permintaan dari luar daerah memang terus datang," terangnya.

Namun begitu, Sumiyati mengaku saat ini masih kesulitan untuk mendapatkan bahan baku ubi jalar ungu di Bondowoso dan sekitarnya. Akibatnya, ia harus mendatangkan dari daerah sekitar, yaitu Banyuwangi dan Jember.

"Alhamdulillah, untuk saat ini kebutuhan ubi ungu masih terpenuhi. Mudah-mudahan ke depan warga sekitar sini mau menanam ubi ungu sehingga saya tak perlu jauh-jauh untuk mendapatkannya," tutupnya. (lll/lll)