Kebakaran di Gunung Penanggungan Padam, Pendaki Belum Boleh Naik

Enggran Eko Budianto - detikNews
Rabu, 03 Okt 2018 16:07 WIB
Proses pemadaman api di Gunung Penanggungan. (Foto: Istimewa)
Mojokerto - Kebakaran hutan lindung yang terjadi di kawasan puncak Gunung Penanggungan akhirnya bisa dipadamkan. Kendati demikian, jalur pendakian ke puncak gunung setinggi 1.653 mdpl itu masih ditutup.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mojokerto M Zaini mengatakan, kebakaran yang berlangsung sejak hari Senin (1/10) sore itu menghanguskan sekitar 90 hektare hutan lindung di kawasan puncak Gunung Penanggungan.

Namun ia memastikan kebakaran yang mengenai area petak 1 BKPH Penanggungan, RPH Ngoro itu berhasil dipadamkan.

"Api sudah berhasil kami padamkan," kata Zaini saat dihubungi detikcom, Rabu (3/10/2018).


Proses pemadaman api, lanjut Zaini, melibatkan 307 personil dari berbagai unsur, mulai dari BPBD Mojokerto, Perhutani, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Tamiajeng, warga, polisi, relawan, Tahura R Soerjo, Koramil Ngoro hingga Masyarakat Peduli Api Seloliman.

"Pemadaman kami lakukan secara manual, juga kami buat ilaran (sekat) agar tak merembet ke bawah," ujarnya.

Namun hingga saat ini, Zaini belum bisa memastikan penyebab terbakarnya hutan lindung tersebut. "Untuk penyebabnya masih kami teliti," tegasnya.


Zaini menambahkan, meski jalur pendakian Tamiajeng, Trawas masih ditutup. ia juga meminta para pecinta alam tak nekat mendaki melalui jalur tikus menuju ke puncak gunung berjuluk Pawitra itu.

Ini karena kebakaran hutan di kawasan puncak Penanggungan masih berpotensi kembali terjadi sehingga dapat mengancam keselamatan para pendaki. Terlebih lagi jalur Tamiajeng paling menjadi favorit para pendaki lantaran lebih landai.

"Saya yakin belum padam semua. Soalnya yang terbakar ada juga pohon-pohon, sisa bara mungkin masih ada. Kami ingin memastikan segala sesuatunya aman baru dibuka kembali jalur pendakian," timpal Sekretaris LMDH Sumber Lestari yang mengelola pos pendakian Tamiajeng, Trawas, Mojokerto Khoirul Anam. (lll/lll)