Kirab Tumpeng Encek, Kearifan Lokal Pemersatu Warga Blitar

Erliana Riady - detikNews
Minggu, 30 Sep 2018 08:47 WIB
Foto: Erliana Riady
Blitar - Suasana kampung di Kelurahan Tanjungsari, Kota Blitar berubah meriah. Warga tampak berbondong membawa tumpeng encek sembari mengenakan pakaian adat Jawa.

Ternyata kirab tumpang encek yang digelar warga Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo ini adalah agenda tahunan yang dilakukan warga di setiap Suro atau 1 Muharam.

Encek ini terbuat dari pelepah pisang yang dibentuk segi empat. Di sela tatanan nasi dan lauk pauknya, diselipkan janur kuning yang dibentuk menghadap ke atas. Tumpang encek yang dikirab adalah hasil sumbangan warga lalu dikumpulkan terlebih dahulu di rumah sesepuh desa.

"Janur itu dari kata Nur Jannah. Nur itu artinya sinar. Jannah itu surga. Jadi janur kuning ini sebagai media untuk memanjatkan doa pengharapan, agar yang berdoa mendapatkan surga. Berkah dalam hidupnya," jelas Ketua Dewan Kesenian Kota Blitar Andreas Edison kepada detikcom, Sabtu (29/9/2018).


Kirab Tumpeng Encek, Kearifan Lokal Pemersatu Warga BlitarFoto: Erliana Riady

Andreas juga menjelaskan ada alasan khusus mengapa yang dipilih menjadi encek adalah pelepah pisang.

"Bukan pada pelepahnya ya, tapi pada pisangnya. Biasanya pisang raja. Itu simbol cita-cita untuk menjadi orang besar (berhasil). Buah pisang itu kan banyak, ini merupakan simbol banyak saudara, banyak kawan maka akan banyak rejekinya," ulasnya.

Makanan yang ditata dalam encek sendiri dinamakan tumpeng plontang. Menurut Andreas, plontang punya makna bermacam-macam di antaranya makanan atau masakan bermacam-macam yang dijadikan satu tempat.

"Kirab tumpeng ini diharapkan bisa menjadi media untuk menyatukan warga. Kita harus cermat nguri-nguri budaya kearifan lokal yang sarat pesan moral. Tentu disesuaikan dengan peradaban zaman sekarang. Agar tetap lestari sebagai pegangan menjaga jati diri," tandas Andreas.

Kirab Tumpeng Encek, Kearifan Lokal Pemersatu Warga BlitarFoto: Erliana Riady



Selain kirab tumpeng encek, warga juga menggelar karnaval dengan peserta per rukun warga (RW). Tua-muda pun terlibat dalam acara ini.

Salah satu warga Mujiono (64) mengaku senang acara seperti ini dilestarikan karena telah menjadi tradisi secara turun-temurun.

"Seneng kalau pas Suroan selalu seperti ini. Warga guyub rukun, nanti habis kami doa bersama, tumpengnya kami makan bersama-sama. Makanya harus dilestarikan ke anak cucu kita, biar mereka tetap bisa rukun dan damai selamanya," harap sesepuh desa ini. (lll/lll)