DetikNews
Rabu 26 September 2018, 10:08 WIB

Masih di Pasuruan, Warga di Sini Justru Desak Situs Purbakala Dipugar

Muhajir Arifin - detikNews
Masih di Pasuruan, Warga di Sini Justru Desak Situs Purbakala Dipugar Situs Candiwates. (Foto: Muhajir Arifin)
Pasuruan - Selain petirtaan kuno di Dusun Sendang, Desa Manikrejo, Kecamatan Rejoso, situs purbakala juga ditemukan di Dusun Kalongan, Desa Candiwates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Namun berbeda dengan warga Desa Manikrejo, warga Desa Candiwates malah mendorong agar situs purbakala di daerah mereka segera dipugar.

"Kalau Candiwates beda dengan Rejoso ya, warga malah mendorong segera diekskavasi. Warga berharap segera dipugar sehingga mendatangkan manfaat bagi warga sekitar," kata Kepala Unit Penyelamatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto, Nugroho Harjo Lukito kepada detikcom, Rabu (26/9/2018).


Nugroho menambahkan, situs Candiwates berada di sawah milik petani bernama Prawiro (50). Pemilik tanah juga telah mengizinkan proses ekskavasi.

"Situs Candiwates ini berupa saluran air kuno. Dugaan kuat berasal dari Kerajaan Singosari. Namun belum pasti juga ada hubungan fungsi apa tidak dengan Candi Jawi yang juga masa Singosari," terang Nugroho.


Masih di Pasuruan, Warga Desa Ini Desak Situs Purbakala Segera DipugarFoto: Muhajir Arifin

Karena didukung warga, dalam waktu dekat BPCB Mojokerto akan segera melakukan ekskavasi situs Candiwates. "Yang jelas akhir tahun ini akan kami ekskavasi. Saat ini masih terkendala waktu karena kami juga melakukan hal yang sama di sejumlah daerah," ungkapnya.

Kepala Desa Candiwates Ahmad Irfan mengatakan warga sangat antusias dengan penemuan situs di desanya. Pemilik lahan juga berharap segera diekskavasi agar status lahannya jelas.

"Yang punya tanah malah ingin secepatnya. Warga sini juga berharap demikian. Kami berharap ada manfaatnya nanti. Kalau ada situs sejarah di sini kan ada pengunjung, lumayan warga bisa berdagang," tuturnya.


Situs Candiwates berupa struktur bata yang diduga kuat adalah saluran air. Pemilik sawah menemukannya saat menggali tanah untuk mendapatkan air irigasi. Batu bata di struktur tersebut lebih besar dari batu bata yang biasa digunakan saat ini dengan panjang 35 cm dan lebar 20 cm.

Lokasi temuan situs saat ini masih diberi garis pengaman. Lokasi yang disterilkan berukuran 14 x 3 meter.

"Pemilik sawah masih memanfaatkan sawahnya di luar garis itu. Selain sawah dia juga penjual bakso dan peracangan," pungkas Irfan.



Tonton juga 'Menguak Mitos di Situs Astana Gede Kawali':

[Gambas:Video 20detik]


(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
BERITA TERBARU +